Memaknai Hakikat Ucapan4 menit

Please log in or register to like posts.
News
jagalah lisan

 Seperti yang telah kita ketahui, ucapan berasal dari kata ucap dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang berarti “kata (bagian kalimat, kalimat, dan sebagainya) yang dilisankan; ujar; kata-kata dalam pidato atau sambutan; lafal; sebutan; perkataan sebagai pernyataan rasa hati”. Dalam Islam, ucapan itu sangatlah sarat akan makna. Sebab, ucapan adalah doa. Adapun dalilnya, yakni:

(70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (71) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa menaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar” (Q. S. Al-Ahzaab:33/70-71)

 Dalam ayat lain disebutkan:

(12) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (Q. S. Al-Hujuraat:49/12)

(36) وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولً

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban” (Q. S. Al-Israa’:17/36)

Dalam hadits juga diterangkan berkenaan dengan betapa pentingnya kita menjaga ucapan dan sebagainya. Adapun hadits yang berkenaan dengan hal itu, yakni salah satu di antaranya:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُم ثَلاَثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاَثًا فَيَرضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ سَيْئًا وَأَنْ تَعتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّ قُواوَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ وَكَشْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ

“Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga pula. Allah meridhai kalian bila kalian hanya menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya dan janganlah kalian berpecah belah. Dan Allah membenci kalian bila kalian suka qila wa qala (berkata tanpa berdasar), banyak bertanya (yang tidak berfaidah) serta menyia-nyiakan harta”. (H. R. Muslim no. 1715, Bukhari no. 2408 dari Mughirah)

Referensi: https://almanhaj.or.id/3197-menjaga-lisan-agar-selalu-berbicara-baik.html

 Kemudian, dalam bahasa Arab, kata ucapan disebut dengan “salaamun” yang diambil dari kata mashdarnya adalah “aslama – yuslimu – islaamun” yang berarti keselamatan, kesejahteraan, kedamaian, dsb. Maka dari itu, Islam sangat menekankan untuk mengatakan/mengucapkan dengan perkataan yang baik dan benar. Tidak asal berkata saja tanpa ada ilmu, tanpa ada bukti yang nyata, dan lain sebagainya.

 Adapun dalam Kekristenan juga memaknai ucapan itu sendiri dengan menggunakan kata “salam”. Beberapa di antaranya dalam Alkitab, yakni:

Rm. 16:11 SALAM (SALUT/PENGHARGAAN ATAS PENCAPAIAN) kepada Herodion, temanku sebangsa. Salam kepada mereka yang termasuk isi rumah Narkisus, yang ada dalam Tuhan.
Rm. 16:12 Salam kepada Trifena dan Trifosa, yang bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan. Salam kepada Persis, yang kukasihi, yang telah bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan.
Rm. 16:13 Salam kepada Rufus, orang pilihan dalam Tuhan, dan salam kepada ibunya, yang bagiku adalah juga ibu.
Rm. 16:14 Salam kepada Asinkritus, Flegon, Hermes, Patrobas, Hermas dan saudara-saudara yang bersama-sama dengan mereka.
Rm. 16:15 Salam kepada Filologus, dan Yulia, Nereus dan saudaranya perempuan, dan Olimpas, dan juga kepada segala orang kudus yang bersama-sama dengan mereka.

 Kata SALAM tersebut yang digunakan adalah SALUT atau PENGHARGAAN terhadap PENCAPAIAN ORANG-ORANG KUDUS…. bisa juga berarti SALAM untuk MEMBERIKAN SHALOOM (UCAPKAN BERKAT BAGI ORANG itu)…. Saat TUHAN Yesus mengutus MURID-Nya untuk mengabarkan INJIL:

Matius 10:11 Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat.
Matius 10:12 Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka.(BIS Waktu kalian masuk rumah, katakanlah, ‘Semoga Tuhan memberkati kalian.’)
Matius 10:13 Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu.

 Jadi, MAKNA SALAM itu sendiri sebenarnya INGIN MEMBERIKAN “BERKAT” kepada orang lain dan mendoakan orang lain dalam keadaan baik-baik dalam RAHMAT ALLAH…

Baca Juga:   Empati, Pintu Berbagi

Referensi: http://www.sarapanpagi.org/membahas-soal-kata-salam-dalam-alkitab-vt8484.html

Dalam Hinduisme sendiri memaknai ucapan sebagai salam (keselamatan, kedamaian, dsb.) sekaligus sebagai doa. Ucapan yang paling kental dilantunkan oleh umat Hinduisme itu adalah om swastyastu. Kata ini menurut Rsi Dharmakerti dalam percakapannya dengan seorang suyasa, yakni:

“Anakku, tadi anakku mengucapkan panganjali: “Om swastyastu”. Tahukah Ananda apa artinya? Jika belum, dengarlah! Om adalah aksara suci untuk Sang Hyang Widhi. Nanti akan Guru terangkan lebih lanjut. Kata swastyastu terdiri dari kata-kata Sanskerta: su + asti + astu, su artinya baik, asti artinya adalah, astu artinya mudah-mudahan. Jadi, arti keseluruhan om swastyastu ialah “semoga berada dalam keadaan baik atas karunia Sang Hyang Widhi.”

Referensi: http://cakepane.blogspot.com/2010/03/om-swastiastu-salam-sekaligus-doa.html

 Jika ditelusuri lebih lanjut, Kata Swastyastu sangat erat kaitnnya dengan simbol suci Agama Hindu, yaitu SWASTIKA. Swastika merupakan dasar kekuatan dan kesejahteraan Buana Agung (Makrokosmos) dan Buana Alit (Mikrokosmos). Bentuk Swastika ini dibuat sedemikian rupa sehingga mirip dengan galaksi atau kumpulan bintang-bintang di cakrawala yang merupakan dasar kekuatan dari perputaran alam ini. Dengan mengucapkan panganjali Om Swastyastu itu, sebenarnya kita sudah memohon perlindungan kepada Sang Hyang Widhi yang menguasai seluruh alam semesta ini. Dan dari bentuk Swastika itu timbullah bentuk Padma (teratai) yang berdaun bunga delapan (asta dala) yang kita pakai dasar keharmonisan alam, kesucian, dan kedamaian abadi.

Referensi: https://odedwarsa.wordpress.com/2016/01/06/salam-agama-hindu-om-swastiastu/

 Dalam ajaran agama selain daripada pandangan tiga agama yang telah dipaparkan sebelumnya itu juga memaknai ucapan sebagai suatu hal yang dianggap sakral/suci.

 

 Sebagai kesimpulan dari apa yang telah kita bahas terkait memaknai hakikat daripada ucapan itu sendiri sekiranya ucapan mengandung makna yang mendalam dan sarat akan kesakralan di dalamnya. Jikalau kita menyangkutpautkan dengan kehidupan global, maka ucapan tersebut merupakan gambaran daripada bagaimana seseorang tersebut bertutur kata dengan baik dan benar kepada orang lain. Mungkin itu saja yang dapat saya paparkan. Kurang dan lebihnya mohon dimaafkan. Sekian dan terima kasih~

 

Sumber ilustrasi: https://tashfiyah.or.id/

Reactions

Nobody liked ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *