Memaknai Istilah Pluralisme Agama dan Sinkretisme Agama4 menit

Please log in or register to like posts.
News

 Topik ini dikutip dalam sebuah buku yang berjudul “Islam, Doktrin, dan Isu-Isu Kontemporer: Refleksi, Eksplanasi, dan Argumentasi” karya Prof. Dr. H. Faisal Ismail, M.A. pada bagian Isu-Isu Akidah dan Keimanan tentang “Apa yang Salah dengan Pluralisme Agama?”

 

Pluralisme Agama

 Menurut definisi Majelis Ulama Indonesia (MUI), pluralisme agama adalah paham yang menganggap semua agama adalah sama. Dalam pandangan MUI, paham ini bagi umat Islam sangat berbahaya, sesat, dan menyesatkan. Oleh karena itu, MUI melalui fatwanya mengharamkan pluralisme agama dan melarang umat Islam menganut paham ini. Hal ini secara jelas tercantum dalam keputusan fatwa MUI Nomor 7/MUNAS VII/MUI/11/2005, tanggal 29 Juli 2005. MUI mendasarkan fatwanya pada Q. S. Ali-‘Imran:3/19,

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah ialah Islam.

 Dan surat yang sama ayat 85:

Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.

 Dalil tersebut diperkuat lagi dengan Q. S. Al-Kaafiruun:109/6:

Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku.

 Dalam kamus otoritatif berjudul The Random House Dictionary of the English Language (edisi kedua, 1987, halaman 1490), kata “plural” antara lain diartikan,

Pertaining or involving a plurality of persons or things (berkenaan atau melibatkan banyak orang atau hal).

 Kata “pluralism” (pluralisme) diartikan,

a theory that reality consists of two or more independent elements (suatu teori bahwa realitas terdiri atas dua unsur independen atau lebih).

 Kata “plurality” (pluralitas) diartikan,

State of fact of being plural (keadaan atau fakta yang bersifat majemuk).

 Jadi, pluralisme agama adalah paham atau pandangan tentang kemajemukan agama bahwa ada agama-agama lain di luar agama yang kita anut. Kita sadar, mengetahui, dan mengakui “keberadaan” (bukan “kebenaran”) agama-agama lain tersebut. Penegasan Alquran, لكم دينكم ولي دين / lakum diinukum wa liyadiin (bagimu agamamu dan bagiku agamaku) adalah isyarat dan pengakuan bahwa ada agama-agama lain di luar agama Islam.

 Kata-kata yang dikutip dari kamus otoritatif tadi tidak ada yang mengarah dan menunjukkan arti “menyamakan” semua hal (termasuk menyamakan semua agama). Kata “pluralisme” justru dipakai untuk menunjukkan keberagaman, kemajemukan, keberbagaian, dan kebhinekaan dalam spektrum kehidupan manusia.

 

Sinkretisme Agama

 Dalam kamus otoritatif dan menjadi rujukan dunia akademis The Random House Dictionary of the English Language (edisi kedua, 1987, halaman 1928), kata “syncretism” (sinkretisme) diartikan,

The attempted reconciliation or union of different or opposing principles, practices, or parties as in philosophy or religion (upaya merekonsiliasi atau menyatukan prinsip-prinsip, praktik-praktik, atau pihak-pihak yang berbeda atau bertentangan sebagaimana terdapat dalam lapangan filsafat atau agama).

 Kaum penganut sinkretisme mencoba mengambil unsur-unsur penting yang terdapat pada semua agama dan berupaya merekonsiliasi serta menyatukannya.

 Kaum sinkretis berpendapat,

Semua agama pada intinya dan hakikatnya adalah sama.

 Untuk menunjukkan “kesamaan” semua agama, kaum sinkretis mengibaratkan agama-agama itu sebagai ombak-ombak dari samudera yang satu atau sebagai pijar-pijar cahaya dari terang yang satu. Gelombang ombak bisa berbeda-beda, tetapi berasal dan kembali ke pautan lautan yang satu. Cahaya bisa menebar ke mana-mana, tetapi berasal dari terang yang satu. Salah seorang juru bicara dan tokoh sinkretis yang terkenal adalah Shri Ramakhrisna (filsuf India). Ia mengatakan,

Semua agama adalah jalan bagi perwujudan “Tuhan dalam manusia”.

 Pelopor sinkretisme yang lain dan amat tersohor adalah Shri Radhakhrisnan (seorang ahli filsafat dan mantan presiden India). Ia menyatakan,

Semua agama pada hakikatnya adalah sama (sama-sama benar).

 Menurut S. Radhakhrisnan, semua agama adalah alat atau instrumen untuk membawa manusia ke jalan perwujudan diri. Mengutip pernyataannya yang terkenal,

“Creeds and dogmas, words and symbol have only an instrumental values (kepercayaan dan dogma, firman dan simbol hanya merupakan milai-nilai instrumental bagi manusia untuk menuju ke perwujudan diri).”

 Agama-agama di dunia yang berbeda-beda menurut S. Radhakhrisnan hanya berlainan dalam faktor-faktor historis dan geografis, tidak dalam hal esensi dan hakikat. Baginya, tidak ada agama yang mengandung ajaran yang mutlak.

Baca Juga:   Selamat Hari Natal Bu!

 Salah seorang pimpinan MUI di sebuah televisi Jakarta menjelaskan,

yang diharamkan oleh MUI adalah pluralisme agama yang “ditarik” ke sinkretisme agama.

 Jika logika ini diikuti, tauhid yang ditarik ke syirik pasti juga dilarang. Bahasa fatwa itu harus straight forward, eksak, dan akurat: Apa yang dikatakan harus sesuai dengan yang dimaksudkan.

 Sekiranya terdapat kesimpulan dari apa yang telah dipaparkan di atas, yakni bahwa pluralisme agama lebih cenderung diartikan sebagai paham tentang kemajemukan agama. Maksudnya adalah menyadari, menerima, mengakui, dan sebagainya eksistensi agama-agama yang ada selain agama yang kita anut.

 Kemudian, sinkretisme agama itu sendiri cenderung diartikan sebagai paham yang di mana memandang bahwa pada hakikatnya agama yang ada (termasuk agama yang kita anut) itu adalah sama. Di sini, sama dalam hal keyakinan kepada Tuhan dan dalam hal perwujudan diri. Lalu, sinkretisme ini juga dapat diartikan sebagai paham yang berupaya merekonsiliasi dan/atau menyatukan prinsip-prinsip, praktik-praktik keagamaan, dan sebagainya yang berbeda atau bertentangan dalam lingkup filsafat atau agama itu sendiri.

 Hal inilah yang mesti dihindari oleh umat Muslim. Sebab, keyakinan seperti itu sangatlah berbahaya, sesat, dan menyesatkan yang dapat merusak aqidah/tauhid kita sebagai Muslim, sehingga terjerumus ke dalam lubang kesyirikan.

 

 Mungkin itu saja yang dapat saya paparkan. Kurang dan lebihnya mohon dimaafkan. حدن اللّٰه وإيّاكم أجمعين ثمّ السّلام عايكع ورحمة اللّٰه تعالى وبركاته~

 

Sumber ilustrasi: http://alhafidh12.blogspot.com/

Reactions

Nobody liked ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *