Pengeruhan Aqidah di Balik Ucapan Selamat Natal4 menit

Please log in or register to like posts.
News

 Tak asing lagi kita dapati bahwa tanggal 25 Desember adalah peringatan natal untuk kaum Kristiani. Sayangnya, masih banyak sekali remaja Muslim yang belum paham makna dari natal, sehingga dengan terbiasa mengucapkan kalimat “selamat natal”. Nah, untuk itu kali ini kita akan bahas terkait natal dan hukum mengucapkan natal kepada non-Muslim.

 Natal dalam injil adalah memperingati hari lahirnya anak Tuhan, di mana di dalam injil dikisahkan bagaimana terjadinya kelahiran nabi Isa alaihissalam yang menurut kaum Kristiani adalah raja damai atau juru selamat yang merupakan anak Tuhan. Hari natal mereka tetapkan pada tanggal 25 Desember di mana sesama kaum Kristiani akan saling berbagi, menjamu, dan mengadakan pesta, serta nyanyian-nyanyian.

 Sebagian kaum Muslimin sekarang menganggap ucapan “selamat natal” merupakan ucapan yang biasa dan tidak akan bermasalah bagi diri mereka. Padahal, justru hal ini akan berakibat fatal bagi aqidah dan keyakinan kaum Muslim itu sendiri. Mereka yang menganggap remeh kalimat selamat natal mungkin berargumentasi dengan alasan toleransi. Namun, perlu kita ketahui, toleransi bukanlah seperti kesabaran yang tidak ada batasnya.

 Dalam Islam, juga menjunjung tinggi adanya toleransi, namun tidak terhadap syariat. Islam mengajarkan semua akhlak terpuji, begitupun kepada non-Muslim. Seperti yang diriwayatkan sebuah hadits, bahwa Rasul tidak diutus kecuali untuk memuliakan akhlak umatnya. Di sini kita akan membahas beberapa point tentang larangan mengucapkan atau menghadiri dan merayakan natal bersama orang non-Muslim.

Natal Bukan Perayaan Kaum Muslimin

 Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyatakan bahwa kaum Muslimin hanya boleh merayakan dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Sebagaimana hadits nabi.

 Dari Anas bin malik radhiyallahu anhu berkata. “Ketika Nabi datang ke Madinah, penduduk Madinah kala itu memiliki 2 hari raya untuk bersenang senang, berpesta dan bermain-main di masa Jahiliyyah. Dan Rasul bersabda. “Aku datang kepada kalian, sedangkan kalian masih berada di dua hari raya jahiliyyah? Maka ketahuilah, Allah telah menggantinya dengan yang lebih baik, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri” (H. R. Ahmad [Shahih]).

 Dengan adanya dalil ini membuktikan bahwa hari raya yang pantas dirayakan oleh seorang Muslim atau kaum Muslimin hanya ada dua, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri. Bukan natal, ataupun tahun baru masehi. Sebagai Muslim yang taat, cukuplah petunujuk nabi ini kita dengarkan dan taati.

Menyetujui bahwa Nabi Isa adalah Anak Tuhan

 Ketika kita sebagai seorang Muslim mengucapkan selamat natal, maka sejatinya kita memberi penghargaan atas orang yang menganggap nabi Isa sebagai anak Tuhan. Padahal, kita sebagai muslim wajib mengimani adanya 25 Nabi dan Rasul yang kita akui dan imani kenabiannya. Namun, bukan sebagai juru selamat atau anak Allah. Karena dalam surah Al-Ikhlas ayat ke-3 pun Allah sudah menjelaskan bahwa diriNya tidak beranak dan diperanakkan.
Mengucapkan selamat natal seakan kita menyetujui bahwa nabi isa adalah anak tuhan. Dan ini adalah sebuah kemungkaran. Bukankah Allah berfirman. “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku” (Al-Kaafirun:109/6). Lalu, jika kita sebagai Muslim ikut-ikutan merayakan dan mengucapkan natal, maka di manakah batas antara agama mereka dan agama kita??

Sikap Toleransi yang Keliru

 Sikap loyal tak sama dengan berbuat kebaikan. Loyal memiliki arti menolong mengutamakan memuliakan. Dan sikap loyal ini hanya diperuntukkan bagi kaum Muslim dengan Muslim yang lainnya. Sedangkan untuk non-Muslim, kita hanya diperintahkan untuk berbuat baik. Menjenguknya ketika sakit, membantu saat susah, namun untuk urusan ibadah, kita menjaga batasan. Sedangkan kalimat selamat natal adalah ucapan yang mampu menumbuhkan rasa kasih dan sayang di antara mereka. Padahal, sebagai seorang Muslim, kita wajib mengingkari sesembahan kaum kafir. Seperti firman Allah.

قَدْ كَانَتْ لَـكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْۤ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗ ۚ اِذْ قَالُوْا لِقَوْمِهِمْ اِنَّا بُرَءٰٓ ؤُا مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۖ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَآءُ اَبَدًا حَتّٰى تُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَحْدَهٗۤ اِلَّا قَوْلَ اِبْرٰهِيْمَ لِاَبِيْهِ لَاَسْتَغْفِرَنَّ لَـكَ وَمَاۤ اَمْلِكُ لَـكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ شَيْءٍ ۗ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَاِلَيْكَ اَنَـبْنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ

 “Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya. Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata di antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja, kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya. Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu, namun aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu. (Ibrahim berkata), Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal dan hanya kepada Engkau kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali,”

(Q. S. Al-Mumtahanah:60/4)

 Nabi Shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda,

“Janganlah kalian mendahului yahudi dan nashrani dalam ucapan salam.” (H. R. Muslim)

 Tak samar lagi bahwa dalil-dalil telah menjelaskan tentang haramnya mengucapkan selamat natal. Ketahuilah walai kaum Muslimin, ucapan adalah hal terpenting dari agama kita. Dengan ucapan, akan terlihat batin seseorang. Maka, kita sebagai Muslim hendaklah terus mengisi batin kita dengan ilmu ilmu Allah, supaya jelas pembeda antara kita dan mereka.

Baca Juga:   Menyoal Sakralitas Toilet

 Terlebih lagi saat ini kaum Muslimin yang bekerja di toko-toko milik non-Muslim akan diminta untuk mengenakan atribut natal. Bahkan menyebarkan uccapan selamat natal. Hal ini adalah bukti kemerosotannya taraf berpikir masyarakat dan abainya Negara terhadap aqidah para masyarakatnya. Karena itulah kita harus menjadikan Islam sebagai asas dari kehidupan kita.

 Dalam hal muamalah, pendidikan, dan jual beli, asas Islam ini tak akan dapat dilaksanakan, kecuali dengan adanya pemimpin Islam yang akan menerapkan Islam di sistem kenegaraan saat ini.

Wallahu a’lam.

Reactions

Nobody liked ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *