Teori Kebenaran11 menit

Please log in or register to like posts.
News
Teori Kebenaran

TEORI-TEORI KEBENARAN

(Korespondensi, Koherensi, Pragmatik, Struktural Paradigkmatik, Performatik, Preposisi)

PENDAHULUAN

Dalam perkembangan dunia filsafat terutama dalam dunia filsafat ilmu. teori-teori kebenaran sangat penting dan berperan sekali terhadap mencari kebenaran tersebut di dalam suatu masalah pokok. Setiap kebenaran harus diserap oleh kebenaran itu sendiri serta kepastian dari pengetahuan tersebut,dari suatu hakikat kebeneran merupakan suatu obyek yang terus dikaji oleh manusia terutama para ahli filsuf, karena hakikat kebenaran ini manusia akan mengalami pertentangan batin yakni konflik spikologis.

Menurut para ahli filsafat, kebenaran bertingkat-tingkat bahkan tingkatan tersebut bersifat hirarkhis. Kebenaran yang satu di bawah kebenaran yang lain serta tingkatan kualitasnya ada kebenaran relatif, ada kebenaran mutlak (absolut). Ada kebenaran alami dan ada pula kebenaran illahi, ada kebenaran khusus individual, ada pula kebenaran umum universal.

Manusia selalu berusaha menemukan kebenaran. Beberapa cara ditempuh untuk memperoleh kebenaran, antara lain dengan menggunakan rasio seperti para rasionalis dan melalui pengalaman atau empiris. Pengalaman-pengalaman yang diperoleh manusia membuahkan prinsip-prinsip yang lewat penalaran rasional, kejadian-kejadian yang berlaku di alam itu dapat dimengerti.

PEMBAHASAN

A. Pengertian Kebenaran dan Kaitannya

Kata “kebenaran” dapat digunakan sebagai suatu kata benda yang konkrit maupun abstrak (Abbas Hamami, 1983). Jika subyek hendak menuturkan kebenaran artinya adalah proposisi yang benar. Proposisi maksudnya adalah makna yang dikandung dalam suatu pernyataan atau statement.

Adanya kebenaran itu selalu dihubungkan dengan pengetahuan manusia (subyek yang mengetahui) mengenai obyek. Jadi, kebenran ada pada seberapa jauh subjek mempunyai pengetahuan mengenai objek. Sedangkan pengetahuan bersal mula dari banyak sumber. Sumber-sumber itu kemudian sekaligus berfungsi sebagai ukuran kebenaran.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, yang ditulis oleh Purwadarminta menjelaskan bahwa kebenaran itu adalah:

Keadaan (hal dan sebagainya) yang benar (cocok dengan hal atau keadaan yang sesungguhnya. Misalnya kebenran berita ini masih saya ragukan, kita harus berani membela kebenran dan keadilan.
Sesuatu yang benar (sugguh-sugguh ada, betul-betul hal demikian halnya, dan sebagainya). Misalnya kebenaran-kebenran yang diajarkan agama.
Kejujuran, kelurusan hati, misalnya tidak ada seorangpun sanksi akan kebaikan dan kebenaran hatimu.
Selalu izin, perkenaan, misalnya dengan kebenran yang dipertuan.
Jalan kebetulan, misalnya penjahat itu dapat dibekuk dengan secara kebenaran saja.
Terdapat bermacam katagori atau tingkatan dalam arti kebenaran ini, maka tidaklah berlebihan jika pada saatnya setiap subjek yang memiliki pengetahuan akan memilki persepsi dan pengetahuan yang amat berbeda satu dengan yang lainnya.

Pertama-tama, Kebenran berkaitan dengan kualitas pengetahuan. Artinya semua pengetahuan yang dimilki oleh seseorang yang mengetahui sesuatu objek dititik dari jenis pengetahuan yang dibangun. Dengan demikian tingkatan pengetahuan adalah:

Pengetahuan yang memiliki sifat subjektif, artiny amat terikat pada subjek yang mengenal.
Pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang telah menetapkan objek yang khas atau spesifik dengan menerapkan atau hampiran metodologi yang khas pula.
Pengetahuan filsafat, yaitu jenis pengetahuan yang pendekatannya melalui metodologi pemikiran filsafati.
Kebenaran pengetahuan yang terkandung dalam pengetahuan agama.
Kedua, Kebenaran yang berkaitan dengan sifat atau karakteristik dari bagaimana cara atau dengan alat apakah seseorang membangun pengetahuannya itu. Apakah ia membanguannya dengan penginderaan atau sense experience, atau akal pikir atau ratio, intuisi, atau keyakianan. Jenis pengetahuan menurut ini terdiri atas:

Pengetahuan indrawi
Pengetahuan akal budi
Pengetahuan intuitif
Pengetahuan kepercayaan atau pengetahuan otoritatif.
Ketiga, kebenaran pengetahuan yang dikaitkan atas ketergantungan terjadinya pengetahuan itu, artinya bagaimana relasi atau hubungan antara subjek dan objek, Jika subjek yang berperan maka jenis pengetahuan itu mengandung nilai kebenran yang sifatnya subjektif. Atau jika objek amat berperan maka sifatnya objektif.

B. Teori-teori Kebenaran

Dalam perkembangan pemikiran filsafat perbincangan tentang kebenaran sudah dimulai sejak Plato yang kemudian diteruskan oleh Aritoteles. Sebagaiman dikemukakan oleh filusuf abad XX Jaspers sebgaimana yang dikutip oleh Hamersma (1985) mengemukakan bahwa sebenarnya para pemikir sekarang ini hanya melengkapi dan menyempurnkan filsafat Plato dan Aritoteles. Teori kebenaran itu selalu pararel dengan teori pengetahuan yang dibangunnya. Teori-teori pengetahuan itu terdiri atas:

Baca Juga:   Kita Ingin Menjadi Apa?

1. Teori Kebenaran Korespondensi (berhubungan)

Tokoh Korespondensi dan Pengertiannya
Teori ini dikenal sebagai salah satu teori kebenaran tradisional (White, 1978) , teori yang paling awal atau tua yang berangkat dari teori pengetahuan Aritoteles yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang kita ketahui adalah sesuatu yang dapat dikembalikan pada kenyataan yang dikenal oleh subjek (Ackerman, 1965) , hal ini juga sebagaimana dikemukakan oleh Hornie (1952) dalam bukunya Studies in Philosophy menyatakan “The Correspondence theory is an old ane”.

Dan hal ini juga sesuai dengan pendapat Kattsoff (1986) yang menyatakan bahwa “kebenaran atau keadaan benar berupa kesesuaian (correspondence) antara makna yang dimaksudkan oleh suatu pernyataan dengan apa yang sungguh-sugguh merupakan halnya atau apa yang merupakan fakta-faktanya.

Teori ini adalah teori yang Sangat menghargai pengamatan dan pengujian empiris, teori ini lebih menekankan cara kerja pengetahuan aposterion, menegaskan dualitas antara S dan O. Pengenal dan yang dikenal, dan menekankan bukti bagi kebenaran suatu pengetahuan.

Kriteria Kebenaran Korespondensi
Teori ini juga dapat diartikan, bahwa kebenaran itu adalah kesesuaian dengan fakta, keselarasan dengan realitas, dan keserasian dengan situasi aktual. Sebagai contoh, jika seorang menyatakan bahwa “Kuala lumpur adalah Ibu Kota Negara Malaysia”, pernyataan itu benar karena pernyataan tersebut berkoresponden , memang menjadi Ibu Kota Negara Malaysia. Sekiranya ada orang yang menyatakan bahwa “Ibu Kota Malaysia adalah Kelantan”, maka pernyataan itu tidak benar, karena objeknya tidak berkoresponden dengan pernyataan tersebut.

2. Teori kebenaran Koherensi

Tokoh Koherensi dan Pengertiannya
Teori kebenran lain yang dikenal tradisional juga adalah teori kebenaran Koherensi. Teori Koherensi dibangun oleh para pemikir rationalis seperti Leibniz, Spinoza, Hegel, dan Bradley.

Menurut Kattsoff (1986) dalam bukunya Elements of Philosophy “…… suatu proposisi cendrung cendrung benar jika proposisi tersebut dalam keadaan saling berhubungan dengan prosisi-prosisi lain yang benar, ata jika makna yang dikandungnya dalam keadaan saling berhubungan dengan pengalaman kita “.

Teori kebenaran koherensi ini biasa disebut juga dengan teori konsitensi. Pengertian dari teori kebenaran koherensi ini adalah teori kebenaran yang medasarkan suatu kebenaran pada adanya kesesuaian suatu pernyataan dengan pernyataan-pernyataan lainnya yang sudah lebih dahulu diketahui, diterima dan diakui kebenarannya.

Kriteria Kebenaran Koherensi
Teori ini juga dapat diartikan, sebagai suatu pernyataan yang dianggap benar kalau pernyataan tersebut koheran dan konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya. Jadi, suatu pernyataan dianggap benar apabila pernyataan tersebut dalam keadaan saling berhubungan dengan pernyataan-pernyataan lain yang benar, atau jika makna yang dikandungnya dalam keadaan saling berhubungan dengan pengalaman kita. Dengan kata lain, suatu proposisi itu benar jika mempunyai hubungan dengan ide-ide dari proposisi yang telah ada dan benar adanya. Contohnya, bila kita beranggapan bahwa semua manusia akan mati adalah pernyataan yang selama ini memang benar adanya. Jika Ahmad adalah manusia, maka pernyataan bahwa Ahmad pasti akan mati, merupakan pernyataan yang benar pula. Sebab pernyataan yang kedua konsisten dengan pernyataan yang pertama.

3. Teori Kebenaran Pragmatik

Tokoh Pragmatik dan Pengertiannya
White (1978) dalam bukunya Truth; Problem in Philosophy, menyatakan teori kebenaran tradisional lainnya adalah teori kebenarn pragmatik. Paham pragmatik sesungguhnya merupakan pandangan filsafat kontemporer karena paham ini baru berkembang pada akhir abad XIX dan aw al abad XX oleh tiga filusuf Amerika yaitu C.S Pierce, Wiliam James, dan john Dewey. Menurut paham ini White lebih lanjut menyatakan bahwa:

“….. an idea –a term used loosly by these philosophers to cover any “opinion, belif, statement, or what not”–is an instrument with a paticuler function. A true ideas is one which fulfills its function, which works; a false ideas is one does not.”

Baca Juga:   Meraba Permainan Ego Tuhan Lewat Ombak

Pragmatik atau Pragmatisme adalah ajaran mengenai pengertian, atheory of meaning, ajaran mengenai pengertian, secara pragmatik di definisikan sebagai berikut :

“Jika saya bertindak pada objek A,
Tindakan itu dilaksanakan dengan cara X,
Maka panca indera saya akan mengalami Y.”

Jika kita terapkan difenisi diatas, dengan menyebut objek A dalam bentuk istilah atau nama, katakanlah “pohon”. Maka rumus itu akan menjadi :

“Jika saya menjama batang pohon, maka saya akan merasakan sesuatu yang kasar” atau “keras”.

Andaikata peristiwa terjadi pada musim panas:

“Jika saya berdiri diatas pohon, maka saya akan merasakan keteduhan”.

Maka pragmatisme merupakan ajaran tentang pengertian, ialah pengertian suatu istilah yang terjadi okeh karena sikap dan pengalaman.

Ada 3 patokan yang di setujui aliran pragmatik11 yaitu:

Menolak segala intelektualisme
Aktualisme
Meremehkan logika formal
Kriteria Kebenaran Pragmatik
Jadi menurut pandangan teori ini bahwa suatu proposisi bernilai benar bila proposisi ini mempunyai konsekuensi-konsekuensi praktis seperti yang terdapat secara inheren dalam pernyataan itu sendiri. Karena setiap pernyataan selalu selalu terikat pada hal-hal yang bersifat praktis, maka tiada kebenran yang bersifat mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri, lepas dari akal yang mengenal, sebab pengalaman itu berjalan terus dan segala yang dianggap benar dalam perkembangannya pengalaman itu senatiasa berubah.

Hal itu karena dalam prakteknya apa yang dianggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutmya. Atau dengan kata lain bahwa suatu pengertian itu tak pernah benar melainkan hanya dapat menjadi benar kalau saja dapat dimanfaatkan praktis.

4. Teori Kebenaran Struktural Paradegmatik

Tokoh Struktural Paradegmatik dan Pengertiannya
Teori ini banyak dikembangkan oleh beberapa ilmuan antaranya adalah Thoams Kuhn. Khun menampilkan konsep rekontruksirasional. Khun mensinyalir kebanyakn ilmuan hanya menampilkan ilmu pada dataran moziak saja, belum menjangkau dataran rekontruksi rasional menjadi suatu pradigma. Menurut khun pradigma tersebut ada beberapa hal, yaitu:

Meningkatkan kesesuaian antara observasi dengan pradigma
Memperluas skopa pradigma menjadi mencakup fenomena tambanahan
Menetapakn nilai universal konstan
Merumuskan hukum kuantitatif untuk menyempurnakan pradigma.
Menetapkan alternative cara menerapakn pradigma pada telaa baru.
Kriteria Kebenaran Struktular Paradigmatik
Menurut teori struktular pradigmatik ini, bahwa Suatu teori dinyatakan benar jika teori itu berdasarkan pada paradigma atau perspektif tertentu dan ada komunitas ilmuwan yang mengakui atau mendukung paradigma tersebut.

Banyak sejarawan dan filosof sains masa kini menekankan bahwa serangkaian fenomena atau realitas yang dipilih untuk dipelajari oleh kelompok ilmiah tertentu ditentukan oleh pandangan tertentu tentang realitas yang telah diterima secara apriori oleh kelompok tersebut. Pandangan apriori ini disebut paradigma oleh Kuhn dan world view oleh Sardar.

Paradigma ialah apa yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota suatu masyarakat sains atau dengan kata lain masyarakat sains adalah orang-orang yang memiliki suatu paradigma bersama.

5. Teori kebenaran Performatik

Tokoh Performatik dan Pengertiannya
Teori ini dianut oleh filsuf Frank Ramsey, John Austin dan Peter Strawson. Para filsuf ini hendak menentang teori klasik bahwa “benar” dan “salah” adalah ungkapan yang hanya menyatakan sesuatu. Proposisi yang benar berarti proposisi itu menyatakan sesuatu yang memang dianggap benar.

Menurut teori ini, suatu pernyataan dianggap benar jika iamenciptakan realitas. Jadi pernyataan yang benar bukanlah pernyataan yang mengungkapkan realitas, tetapi justeru dengan pernyataan itu tercipta realitas sebagaimana yang diungkapkan dalam pernyataan itu.

Sederhanya teori kebenaran performatif adalah mereka melawan teori klasik bahwa benar dan salah adalah ungkapan deskriptif jika suatu pernyatan benar kalau ia menerapkan realitas.

Kriteria kebenaran Performatik
Menurut teori ini, suatu pernyataan kebenaran bukanah kualitas atau sifat sesuatu, tetapi sebuah tindakan (performatik). Untuk menyatakan suatu itu benar, maka cukup melakukan tindakan konsesi (setuju/ menerima/ membenarkan) terhadap gagasan yang telah dinyatakan. Dengan demikian, tindakan performatik tidak berhubungan dengan diskripsi benar atau salah dari sebuah keadaan faktual. Jadi, sesuatu itu dianggap benar jika memang dapat diaktualisasikan dalam tindakan.

Baca Juga:   Resensi Buku What Is Science Archie J Bahm

6. Teori Kebenaran Proposisi

Tokoh Proposisi dan Pengertiannya
Diantara tokoh dari teori ini adalah AMW. Pranaka (1987) yang mengelompkkan kebenaran ini kedalam tiga jenis kebenaran, yaitu; 1) kebenaran epistemologikal 2) kebenaran ontologikal 3) kebenaran yang dalam.

Lincoln & Guba (1985) mengungkapkan empat jenis kebenaran yang berbeda, yaitu:

Kebenaran empiris
Kebenaran logis
Kebenaran etis
Kebenaran metafisis.
Proposisi merupakan kalimat logika yang mana pernyataan tentang hubungan antara dua atau beberapa hal yang dapat dinilai benar atau salah. Ada yang mengartikan proposisi sebagai ekspresi verbal dari putusan yang berisi pengakuan atau penginkaran sesuatu (predikat) terhadap sesuatu yang lain (subjek) yang dapat dinilai benar atau salah.

Unsur-unsur Proposisi:

Term subjek; hal yang tentangnya pengakuan atau pengingkaran ditujukan. Term subjek dalam sebuah proposisi disebut subjek logis. Ada perbedaan antara subjek logis dengan subjek dalam sebuah kalimat. Tentang subjek logis harus ada penegasan/ pengingkaran sesuatu tentangnya.
Term predikat; isi pengakuan atau pengingkaran.
Kopula; menghubungkan term subjek dan term predikat.
Terdapat beberapa jenis Proposisi, yaitu:

Proposisi Berdasarkan Bentuknya, yaitu 1) proposisi tungal yang terdiri atas satu subjek dan satu predikat. 2) proposisi majemuk yang terdiri atas satu subjek dan lebih dari satu predikat.
Proposisi berdasarkan sifatnya, yaitu proposisi yang hubungan subjek dan predikatnya tidak memerlukan syarat apapun.
Proposisi berdasarkan kualitasnya, yaitu 1) Proposisi Positif, atau Afirmatif, merupakan proposisi yang predikatnya membenarkan subjek. 2) Proposisi Negatif, merupakan proposisi yang predikatnya tidak mendukung/ membenarkan subjek.
Proposisi berdasarkan Kuantitasnya, yaitu Proposisi Umum (universal), adalah proposisi dimana predikat mendukung atau mengingkari semua subjek. Proposisi Khusus (partikular), adalah proposisi dimana pernyataan khusus mengiyakan yang sebagian subjek merupakan bagian dari predikat.
Kriteria Kebenaran Proposisi
Menurut teori ini, sesuatu bisa dianggap benar apabila sesuai dengan persyaratan materilnya suatu proposisi, bukan pada syarat formal proposisi, dalam sumber lain ada juga yang menambahkan dengan bentuk kebenaran lain yang disebut dengan kebenaran sintaksis.

Selanjutnya, berkaitan dengan kebenaran yang disebutkan diatas, perlu juga dikemukakan bahwa ukuran kebenaran dalam filsafat bersifat logis tidak empiris atau logis dan logis saja, maka ukuran kebenarannya adalah logis tidaknya penegtahuan itu. Bila logis maka dia pandang benar, dan bila tidak logis maka salah. Sementara itu dalam ilmu bersifat logis empiris

PENUTUP

A. Kesimpulan

Hakikat kebenaran sangat penting dan berperan sekali terhadap mencari kebenaran tersebut di dalam suatu masalah pokok. Setiap kebenaran harus diserap oleh kebenaran itu sendiri serta kepastian dari pengetahuan tersebut, dari suatu hakikat kebeneran merupakan suatu obyek yang terus dikaji oleh manusia terutama para ahli filsuf, karena hakikat kebenaran ini manusia akan mengalami pertentangan batin yakni konflik spikologis.

Di dalam menaggapi teori kebenaran ini, terdapat banyak pendapat yang mengartikan tentang teori kebenarn ini, kita tidak dapat berpatokan hanya pada satu pendapat atau definisi saja, karena perbedaan pendefinisian itu adalh sebagai perbangdingan bagi kita.

Manusia itu adalah satu makhluk yang selalu mencari kebenaran, dengan memahami teori kebenaran dari berbagai pakar filsafat, dapat terus mengembangkan dan memudahkan dalam mencari kebenaran.

Daftar Pustaka

-Tim dosen filsafat ilmu UGM.Filsafat Ilmu. Liberty, Yogyakakta:2007.
-Susanto, Drs.A. M.Pd.Filsafat Ilmu:suatu kajian dalam dimensi Ontologis, Bumi Aksara,Jakarta:2011
-Bawingan. Drs.G.W.SH.Sebuah Studi tentang Filsafat.Pradya Pramita,Jakarta:1981
-A.Yusuf Lubis. Dr. Filsafat Ilmu Klasik Hingga Kontemporer. PT.RajaGrafindo Persada, Jakarta:2016.

Sumber Gambar : https://www.google.com.

Reactions

1

Nobody liked ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *