ABB Lagi-Lagi Jadi Korban PHP Rezim3 menit

Please log in or register to like posts.
News

 Pemerintah akhirnya membatalkan pembebasan ustadz Abu Bakar Ba’asyir (ABB), setelah melalui kajian singkat serta janji seorang Presiden yang akan membebaskan beliau. Persoalan pembatalan ini sebenarnya tidak perlu menjadi kegaduhan, seandainya ABB tidak dijadikan alat politisasi untuk meraih suara dengan memanfaatkan simpati dan dukungan umat Islam atas pembebasannya.

 Nampaknya, pembahasan PHP (Pemberi harapan palsu) terlalu sering bermukim di Indonesia. Bagai makanan, masyarakat sudah mulai bosan mengonsumsi makanan itu-itu lagi (kalau bukan tahu, tempe, mie dan telur) (baca: makanan anak kos-kosan).

 Bagi pemerintah, bisa saja membiarkan blunder ini. Namun, luka masyarakat sepertinya menyimpan catatan lain di memori terdalam. Kita mengingat kasus PHP kepada Mahfud MD di menit-menit akhir pengumuman cawapres bahkan dikabarkan pak MD sudah melakukan jahit baju model yang sama dengan calon presiden. Tapi, kenyataannya tidak berpihak ke pak MD, tapi lebih ke ulama tercinta kita.

 Nasi sudah menjadi bubur, sekarang bola opini telah berubah arah menjadi blunder karena masyarakat juga sudah pandai membaca kontestasi politik. Sebelumnya, setelah Presiden menyatakan akan membebaskan ABB demi alasan kemanusiaan, pihak Australia telah menyatakan keberatannya, hingga akhirnya menkopolhukam melakukan press releasenya bahwa pembebasan Abu Bakar Ba’asyir dikaji ulang.

 Pembatalan pembebasan terpidana Bom Bali 2002, ABB menuai polemik di publik. Terkait itu, Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean menilai, pembatalan ini merupakan bukti jika ucapan seorang kepala negara saja sulit untuk dipegang.

“Batalnya Abu Bakar Ba’asyir dibebaskan oleh Jokowi menunjukkan bahwa Jokowi ini sosok yang tidak bisa memegang janji dan kata-kata,” kata Ferdinand kepada telusur.co.id, Rabu (24/1/19).

 Padahal, menurut Ferdinand,

 “Jokowi melakukan konperensi pers, ditanya media wartawan menjawab alasannya adalah kemanusiaan. Kemudian, Yusril juga menyatakan bahwa Jokowi sudah menyampaikan pembebasan ini alasan kemanusiaan dan tanpa syarat yang sudah direncanakan bahwa hari Rabu ini sudah dibebaskan,” jelas Ferdinand.

 Faktanya, sambung dia, pembebasan ini urung dilakukan. Oleh sebab itu, dia menilai, pembatalan mendadak ini bukti tidak tertatanya manajemen pemerintahan rezim Jokowi.

 “Ini menunjukkan betapa amburadul nya pemerintah rezim Jokowi ini,” tandasnya.

 PHP apabila dilakukan dengan mudah secara berulang-ulang, dengan alasan belum ada koordinasi ataupun tekanan dari pihak luar seharusnya menjadi kajian sebelum memberikan PHP, sehingga Presiden bukan seperti ‘boneka’ yang tidak konsistenan dalam mengambil suatu kebijakan (plin-plan). Seperti ABG yang lagi mabuk kasmaran (pacaran), putus karena ketahuan selingkuh dan balikan lagi dengan begitu mudanya.

 Padahal, jika kita mengingat sejarah ABB, maka ia sangat berjasa bagi negara. Tapi, negara membalasnya dengan sebuah penjara, sebagaimana yang terdapat dalam artikel Panjimas.com, 06/04/2016. Mungkin banyak yang belum tahu, jika Ustadz ABB memiliki jasa yang sangat besar bagi negara Indonesia. Jasa besar yang dimaksud tentu di luar aktivitas dakwahnya selama puluhan tahun. Keselamatan seorang warga negara yang berada di negara lain, tentu menjadi tanggung jawab sebuah negara untuk menyelamatkannya dengan berbagai cara.

 Hal itu sebagaimana yang pernah dialami oleh wartawan Metro TV, Meutya Hafid dan Budiyanto. Dua tahun pasca agrasi militer Amerika Serikat atas Irak meletus, kedua wartawan tersebut melakukan peliputan ke daerah konflik. Tanpa diduga, mereka disandera oleh mujahidin yang menamakan diri Jaisyul Mujahidin di Irak, sejak 15 Februari 2005. Padahal, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir telah menjadi bulan-bulanan sejak rezim Orde Baru, hingga rezim Reformasi. Ia pun keluar masuk penjara berkali-kali. Hingga hari ini, kondisinya makin memprihatinkan dan sakit-sakitan di usianya yang telah renta. Apakah kita peduli dengan memenjarakan beliau? Apakah itu merupakan sebuah solusi juga?

Baca Juga:   Narasi Goreng dalam Panci Politik

 Untuk sebuah kontestasi pilpres, deretan aksi PHP ini, seyogyanya menjadi catatan luka pada pemilihan 17 April 2019 mendatang. Terbukti bahwa sistem ini secara telanjang gagal mengambil kepercayaan masyarakat pada umumnya. Lagi dan lagi masyarakat kembali dibuat kecewa dengan kejadian-kejadian yang terus terulang dan kian berulah (tidak karuan). Dengan ini, apakah tidak membuat kita sadar untuk segera bersumber ke sang Maha yang tidak pernah meng-PHP umatnya? Apakah kita tidak bosan diPHP Terus? (*)

Reactions

Nobody liked ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *