Angka ODHA Semakin Naik, Kapankah Masalah HIV akan Membaik?6 menit

Please log in or register to like posts.
News

 Angka Orang dengan HIV AIDS (ODHA) masih belum bisa ditekan. Trennya justru menunjukkan peningkatan setiap tahun. Potret ini masih mengkhawatirkan di tengah momentum Hari AIDS Sedunia, 1 Desember. Dalam data yang dilansir dari www.aidsdatahub.org, Jumat (1/12), memang jumlah kasus baru untuk penderita HIV menurun, yakni 48 ribu penderita. Namun, secara keseluruhan, jumlah penderitanya naik dari tahun lalu. Tahun 2016, jumlah ODHA adalah 620 ribu orang, naik dari tahun sebelumnya 610 ribu orang. Sementara, ibu hamil yang menjadi ODHA mencapai 12 ribu orang.

 “Indonesia negara dengan penduduk yang besar dan sangat padat dengan berbagai macam budaya, agama, dan latar belakang pendidikan. Walaupun jumlah penderita HIV berdasarkan data terbaru 620 ribu orang, kecenderungan pertumbuhan jumlah pasien terus meningkat,” kata Pakar Kesehatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) Agung Waluyo kepada JawaPos.com, Jumat (1/12).

 Dengan memeriksa status HIV AIDS sejak dini, maka akan diketahui seberapa persen kadar imunitas bertahan di dalam tubuh setiap orang, sehingga dengan segera ODHA diberikan terapi pengobatan Antiretroviral (ARV) kepada mereka. Berdasarkan hasil penelitian akademisi dan data dari UNAIDS serta Kementrian Kesehatan, prevalensi HIV di penduduk Indonesia berkisar 0,4 persen, di Jakarta sekitar 1,3 persen. Di kalangan warga binaan di lembaga pemasyarakatan sekitar 6,5 persen dan di kelompok pengguna narkotika suntik sekitar 36,4 persen (UNAIDS, 2013, UNODC, 2014; DITJENPAS, 2012; KemKes, 2014).

 “Satu hal yang sangat penting yang juga harus dilakukan pemerintah dan pihak terkait untuk mengedukasi masyarakat agar menghindari perilaku berisiko tertular HIV, seperti penggunaan narkotika dan perilaku seks berisiko,” kata Agung.

 Data ODHA di Asia dan Asia Pasifik yang menerima terapi pengobatan ARV yakni mencapai 2,4 juta orang. Total jumlah ODHA di Asia dan Asia Pasifik mencapai 5,1 juta orang dan ODHA yang baru terinfeksi 270 ribu orang. (Jawapos.com)

 ODHA adalah singkatan dari Orang Dengan HIV/AIDS. Sudah sering dengar kan tentang HIV/AIDS? HIV (Human Immunodefficiency Virus) itu suatu virus yang dapat menyebabkan penurunan daya tahan tubuh, sehingga tubuh kita jadi sangat rentan oleh berbagai penyakit. Sedangkan AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) adalah tahapan lanjutan setelah seseorang terinfeksi virus HIV yang ditandai dengan munculnya gejala-gejala (sindrom) akibat penurunan sistem imun berupa banyaknya penyakit yang menyerang penderita, bahkan sampai meninggal.

 Pada tahun 2017, tercatat jumlah kematian yang disebabkan oleh AIDS sebanyak 940.000 kasus di seluruh dunia. Angka itu terdiri dari kematian di usia dewasa sebanyak 830.000 dan sisanya pada usia anak sebanyak 110.000. Indonesia menjadi salah satu negara yang termasuk dalam Kawasan Asia Pasifik. Kawasan ini menduduki peringkat ketiga sebagai wilayah dengan pengidap HIV/AIDS terbanyak di seluruh dunia dengan total penderita sebanyak 5,2 juta jiwa. Indonesia menyumbang angka 620.000 dari total 5,2 juta jiwa di Asia Pasifik yang terjangkit HIV/AIDS. Jika dikelompokkan berdasarkan latar belakangnya, maka penderita HIV/AIDS datang dari kalangan pekerja seks komersial (5,3 persen), homoseksual (25,8 persen), pengguna narkoba suntik (28,76 persen), transgender (24,8 persen), dan mereka yang ada di tahanan (2,6 persen).

Solusi Tak Sampai ke Akar Masalah

 Kondom sebagai alat pencegahan HIV/AIDS bukanlah sebuah solusi. Akar masalah penyebaran HIV/AIDS adalah perilaku seks bebas/zina, baik heteroseksual maupun homoseksual. Sumber awal virus mematikan ini adalah dari pelaku homoseksual, lalu menyebar dan terus meluas melalui seks bebas di lokasi prostitusi dan bahkan akhirnya menjalar pada “orang-orang bersih”, yaitu orang yang tertular HIV/AIDS dari pasangan sahnya (suami/istri) yang telah terlebih dahulu tertular virus dari lokasi prostitusi. Selama akar masalah HIV/AIDS berupa seks bebas ini dibiarkan ada dan bahkan mendapat legalitas dengan dibiarkannya lokasi prostitusi berdiri, maka jangan harap HIV/AIDS bisa dihentikan penyebarannya.

Baca Juga:   Meraba Permainan Ego Tuhan Lewat Ombak

 Kampanye kondomisasi pada kalangan remaja dengan anggapan mereka adalah kelompok berisiko juga mengada-ada. Jika remaja tidak tercemari dengan gaya hidup yang membolehkan seks bebas, melalui media massa, internet dan aksi-aksi panggung, maka mereka tidak akan tergoda untuk melakukan hubungan seks hingga berujung pada kehamilan, aborsi, dan terinfeksi HIV/AIDS. Jika para remaja ini memiliki pemikiran yang bersih, maka mereka akan terhindar dari seks bebas, yang artinya mereka juga akan terbebas dari kehamilan tidak diinginkan, aborsi, dan HIV/AIDS.

 Remaja membutuhkan pendidikan, bimbingan dan pendampingan tentang sikap hidup memandang seks bukan sekadar pemberian informasi cara seks aman agar tidak hamil dan tidak tertular penyakit seksual sebagaimana yang selama ini terjadi dalam pendidikan kesehatan reproduksi remaja di sekolah-sekolah. Dibutuhkan perangkat hukum yang melindungi remaja dari paparan pornografi dan pornoaksi dengan cara pelarangan tayangan dan aktivitas porno secara ketat, pemblokiran situs-situs porno, serta pelarangan buku, majalah, CD dan game porno beredar di masyarakat. Kampanye kondomisasi pada remaja justru mendorong mereka untuk berperilaku seks bebas asalkan menggunakan kondom. Tindakan ini merupakan legalisasi seks bebas dan akibatnya adalah makin tumbuhsuburnya berbagai penyakit menular seksual semisal HIV/AIDS.

 Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan selama ini selalu memposisikan penderita HIV/AIDS sebagai korban, sehingga mereka diberi pelayanan yang baik berupa pengobatan di rumah sakit dan bahkan rehabilitasi untuk membaur dengan masyarakat. Masyarakat juga diminta untuk maklum dengan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan menerima mereka secara wajar di dalam pergaulan. Hal ini didengungkan dengan slogan: “Jauhi penyakitnya, bukan orangnya.” Pemakluman terhadap ODHA merupakan perlindungan terhadap perilaku seks bebas karena sudah jelas penyebab terbesar HIV/AIDS selain jarum suntik adalah adalah seks bebas. Maka ODHA seharusnya diberi sanksi sesuai dengan perbuatannya, bukan malah dilindungi.

Islam dan HIV/AIDS

 Allah subhanahu wa ta’ala telah menurunkan Al-Qur’an sebagai solusi tuntas seluruh persoalan manusia, termasuk HIV/AIDS. Allah subhanahu wa ta’ala melarang umat Islam melakukan seks bebas/zina yang merupakan akar masalah HIV/AIDS. Larangan zina ini termaktub dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala surat Al-Israa’ ayat 32 yang artinya:

 “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

 Penyebab HIV/AIDS selain seks bebas adalah konsumsi narkoba. Larangan terhadap narkoba terdapat dalam hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dari Ummu Salamah menuturkan:

“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang setiap zat yang memabukkan dan menenangkan.” (H. R. Abu Dawud dan Ahmad).

 Mufattir dalam hadits tersebut adalah setiap zat relaksan atau zat penenang, yaitu yang kita kenal sebagai obat psikotropika. Maka, Islam mengharamkan narkoba, baik konsumsi, produksi, dan juga peredarannya. Pengharaman zina dan narkoba tidak berhenti sebatas larangan lisan, namun diaplikasikan secara praktis dalam Daulah Islam (Negara Khilafah Islam) dalam bentuk pemberantasan segala hal yang terkait zina dan narkoba. Syari’at Islam menjelaskan sanksi bagi aktivitas zina dan narkoba dalam bentuk berbeda. Pelaku zina jika sudah menikah, maka dihukum rajam (dilempari batu hingga meninggal), dan jika belum menikah, maka dihukum jilid/cambuk seratus kali jilid. Sedangkan, pengguna, produsen, dan pengedar narkoba dihukum sesuai dengan ijtihad khalifah.

 Sanksi yang tegas ini, selain menebus dosa pelaku, juga akan menghasilkan efek jera bagi siapapun yang menyaksikannya. Itulah sebabnya, sanksi rajam dan jilid disiarkan secara luas agar semua warga negara mengetahuinya dan tidak menirunya.

Baca Juga:   Hasrat Konsumtif Game Online: Mobile Legend Bang Bang

 Sedangkan, kejahatan narkoba termasuk ta’zir. Bentuk, jenis dan kadar sanksinya diserahkan kepada ijtihad pemerintahan Islam atau qadhi’ (hakim). Sanksinya bisa dalam bentuk dipublikasikan, dipenjara, didenda, dijilid/dicambuk, dan bahkan sampai hukuman mati dengan melihat tingkat kejahatan dan bahayanya bagi masyarakat.

 Berdasarkan paparan di atas jelas sudah bahwa kondomisasi tidak menyelesaikan persoalan HIV/AIDS, namun bahkan melegalkan seks bebas. Masalahnya, sudah ribuan kasus HIV/AIDS ––bahkan jutaan kasus Narkoba— semua pihak tak mengambil pelajaran berharga? Mengapa tidak memakai konsep syari’ah saja?

Wallahu a’lam bishshawwab.

Reactions

Who liked ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *