Annemi Sejatinya Makar2 menit

Please log in or register to like posts.
News
Makar

GEJOLAK perlawanan atas penindasan dan kesewenang-wenangan di Tanah air sedang mengudara. 2 kejadian heboh menghampiri Negeri Pertiwi. Sebut saja 2 unggahan aksi komika yang niatnya lucu-lucuan menuai malapetaka ‘menghantam jiwa kaum muslim’. Kasus satunya aksi Banser yang dengan pongah membakar bendera Tauhid  berlafaskan syahadat. Hati seakan teriris pisau tumpul yang sakitnya minta ampun. Raga seakan ingin menghakimi, tapi memilih mengelus dada karena kalian teman seakidah. Kadde’ teaiMateko’. (baca: Intonasi Makassar).

Tapi saat agama dihinakan kami juga berhak marah atas kebiadaban yang dilakukan. Sebahagian tokoh menyikapinya dengan sikap sabar dan tidak emosional. Padahal sejatinya marah tidak selalu tercela. Dalam kondisi tertentu marah justru terpuji. Kita mengenal sosok Rasulullah saw. adalah sebaik-baiknya teladan, ia mampu menahan amarahnya dan paling bagus akhlaknya.

Namun, dalam kondisi tertentu Rasulullah saw. pun bisa marah. Sebagaimana riwayat yang menyatakan “Sungguh, Nabi saw. tidak pernah marah terhadap sesuatu. Namun, jika larangan-larangan Allah dilanggar, tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi amarah beliau” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Jadi dalam banyak hal kita pun harus marah, misal: saat Islam dilecehkan atau saat kaum muslim dibantai tanpa belas kasih sedikit pun. Dalam hal seperti ini kita bukan hanya boleh marah, tapi wajib marah dalam bahasa Makassarnya “a’moro-moro”.

Kezaliman terhadap agama Islam dipertontonkan secara massif di pentas kehidupan. Umat menuntut penegakan hukum terhadap penista Agama disebut berbuat makar terhadap Negara. Sementara para ulama, kiyai dan aktivis dakwah justru dikriminalisasi. Dicari-cari berbagai deliknya untuk dijebloskan ke liang penjara. Yang jelas-jelas menistakan agama, kasusnya didiami dan dihilangkan (apa ini adil?). Minta maaf (klasifikasi kasus) aman sentosa, dari jerat hukum (Enaknya dihhh, wajarlah kan dia……bla.bla).

Kumpul KEBO atau kumpul sesama terong dilindungi. Porno-pornoan difasilitasi. Pelaku Miras dan sabu dihilangkan seolah tidak ada, dan lain-lain (kalo dibahas semua, tidak cukup klo dituliskan seharian, mending kita ngopi bahas ini). Suasana memang semakin panas saudara. Kemarin perseteruan pemikiran dan gesekan dirasakan kini konfrontasi fisik pun terjadi dan kian berulah.

Sudah saatnya kita mengingat kembali berita Al-Qur’an, yang menyatakan bahwa orang-orang kafir ingin memadamkan cahaya Allah, dengan mulut-mulut dan tindakan mereka. Tetapi Allah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya walaupun mereka tidak suka. Allah berfirman;

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, sementara Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukainya. Dialah Yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk Dia menangkan atas segala agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS at-Taubah: 32-33).

Baca Juga:   STOP Politisasi Islam

Reactions

Nobody liked ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *