Bencana Alam: Bermawas Diri3 menit

Please log in or register to like posts.
News

 Belum hilang dari ingatan bencana yang menimpa saudari kita di Lombok Timur, NTB pada bulan Juli 2018 dengan kekuatan yang cukup tinggi. Kemudian disusul gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah tepatnya di Palu-Donggala.

 Baru-baru ini, kabar duka kembali menyelimuti saudara kita dari Banten dan sekitanya. Sampai saat ini Polisi dan TNI serta instansi terkait masih melakukan penyisiran pencarian, pembersihan puing-puing, dan evakuasi korban masih berlangsung. Dari data sementara yang didapatkan hingga pukul 15.50 WIB, jumlah korban meninggal dunia sekitar 139 orang (Wartabanten.id, 23/12/18).

 Terlintas di benak penulis, nampaknya bencana alam terlalu nyaman bermukim di bumi khatulistiwa (Indonesia). Ini sebagai bentuk karena terlalu cintanya Ia kepada umatnya, sampai di uji sesakit dan seperih ini agar segera berhukum kepada-Nya. Atau karena bentuk teguran dari-Nya karena umat sudah mulai mencampakkan hukum Allah swt.

 Video detik-detik bencana tsunami yang tersebar di dunia maya setidaknya mengajarkan kita banyak hal. Salah satunya untuk selalu berada di tempat-tempat yang baik dan berkah. Bukan rahasia lagi bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. Karena kita tidak tahu kejadian apa yang akan menimpa kita satu detik, menit dan jam kemudian. Maka waktu adalah salah satu nikmat tertinggi yang diberikan Allah swt. kepada manusia. Perihal pentingnya waktu, Ali bin Abi Thalib pernah mengungkapkan, ‘waktu ibarat pedang. Maka, jika manusia tak bisa memanfaatkan waktu, maka waktu yang sia-sia itu bisa memenggal kepala kita.’

“Manusia akan dimatikan sesuai dengan perilaku dalam kehidupannya”.

 Al-Hafizh Ahmad Bin as-Shiddiq al-Ghumariy dalam kitab Ju’natul Atthar jilid satu halaman 29 menyatakan bahwa,

“Ungkapan di atas bukan hadis Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam lantaran tidak memiliki sanad sama sekali.”

 Ungkapan di atas disebutkan oleh imam Al-Munawiy dalam kitab at-Taisir Syarh al-Jami’ as-shoghir jilid satu halaman 444 dan kitab Faidhul Qadir jilid 6 halaman 226. Ungkapan tersebut beliau reduksi dari hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam riwayat imam Muslim dari Jabir Bin Abdullah, bahwa

“Siapa saja yang mati dalam keadaan mengerjakan sesuatu, maka dalam kondisi demikian ia akan dibangkitkan dari kuburnya.” (Musnad Imam Ahmad hadis no. 14373).

 Ketika seseorang dibangkitkan dari kuburnya sesuai dengan kondisi ketika ia mati, maka setiap perilaku kehidupan seseorang juga sangat menentukan bagaimana ia akan diwafatkan.

 Seseorang yang kebiasaan (rutinitasnya) dalam kehidupan dipenuhi dengan aktifitas-aktifitas ibadah, kemungkinan besar ia akan wafat dalam keadaan Khusnul khotimah. Karena kita tidak tahu kapan kita akan diwafatkan?

 Begitu juga sebaliknya, jika seseorang hampir di setiap aktifitasnya dipenuhi dengan kemaksiatan, akan dikhawatirkan ia akan wafat dengan membawa kebiasaan buruknya. Bisa jadi. Karena ‘Manusia akan dimatikan sesuai dengan kebiasaannya’. Apalagi, penyambutan tahun baru 2019 sudah di depan mata, yang selalu menjadi rutinitas perayaan yang tidak boleh terlewatkan oleh semua kalangan umur. Libur panjang yang beriringan dengan Natal bahkan bertepatan dengan liburan sekolah menambah riuh orang-orang yang berkeinginan melalui pergantian tahun.

 Begadang semalam suntuk, berpesta kembang api, tiup terompet pada detik-detik memasuki tahun baru, pesta miras dan narkoba hingga pesta seks pun dilakoni (asal bahagia versi mereka). Apa salahnya jika di malam pergantian tahun baru masehi ini, kita mengisinya dengan sesuatu yang lebih bermanfaat. Menyikapi hal ini, sudah sepatutnya manusia bermawas diri memanfaatkan waktu seefektif dan seefisien mungkin untuk menjalankan tugasnya sebagai makhluk Allah. Misal dengan memilih tempat-tempat yang mulia, Ngaji, dan melakukan ibadah-ibadah yang mendatangkan kemaslahatan dan lain-lain.

Baca Juga:   Selamat Hari Natal Bu!

 Bisa jadi, betul kata orang berbagai musibah yang menimpa kita karena perbuatan kita sendiri. Dan Allah sudah muak dengan kerusakan yang telah kita perbuat. Sampai-sampai kode yang Ia berikan pun kita tidak pahami. Atau pura-pura tidak paham agar bisa berkompromi dengan hukum yang telah ditetapkan oleh-Nya (jalan tengah/moderat). Bencana ALAM dan bencana ketidakpahaman (*).

 

Sumber ilustrasi: http://bangka.tribunnews.com

Reactions

Nobody liked ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *