Harga Tiket Pesawat Melambung, Rakyat Semakin Buntung6 menit

Please log in or register to like posts.
News

 Baru-baru ini para pengguna jasa pesawat terbang harus dikejutkan dengan tingginya harga tarif penerbangan. Harga tiket yang melambung tinggi ini hampir menyeluruh untuk rute penerbangan domestic. Ketua Indonesia National Air Carrier Asosiation (INACA), I Gusti Askhara Danadiputra menjelaskan, pemicu melambungnya haga tiket pesawat domestik diakibatkan karena tingginya biaya bahan bakar, yaitu lebih dari 150%.

 Kementrian Perhubungan (Kemenhub) mengklaim bahwa naiknya harga tiket pesawat yang sedang terjadi saat ini masih dalam batas wajar dan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Menteri Perhubungan Masyarakat, Budi Karya Sumadi pun meminta agar para masyarakat tidak terlalu berlebihan dalam menangapi kenaikan harga tiket tersebut. Budi bahkan meminta masyarakat untuk berbesar hati dan menerima secara ikhlas dengan kebijakan maskapai pesawat terbang ini.

 Budi Karya menjelaskan bahwa selama beberapa hari ini terjadi persaingan hebat antar masapai. Yaitu persaingan masalah harga tiket. Dia menyadari bahwa kenaikan harga tiket pesawat terbang ini banyak dikeluhkan oleh para masyarakat. Namun di sisi lain, Budi meminta masyarakat berbesar hati, dan memperhatikan bahwa kenaikan harga ini demi keberlangsungan industry penerbangan. Apalagi menurutnya sudah banyak beberapa Negara yang mengalami kebangkrutan dibidang industry penerbangan ini. (Kumparan.com)

 Meski sebelumnya dikatakan oleh kemenhub bahwa kenaikan tarif oleh maskapai disesuaikan dengan daya beli masyarakat dan memperhatikan keberlangsungan industry penerbangan, tapi kenyataan di masyarakat jauh sangat berbeda. Warga mengeluhkan harga tiket domestik yang melambung tinggi, bahkan di low season sekalipun. Kita ambil contoh saya harga tiket ke Padang, Sumatera Barat. Salah satu warga bernama Pringadi Abdi menuturkan bahwa biasanya harga tiket penerbangan ke Padang berkisar antara 700-800 ribu. Namun kini untuk harga tiket Lion Air saja, harga tket penerbangan ke Padang pada low season sekitar 1 juta lebih. (Batamnews.co.id)

 Selain itu, para penduduk daerah Aceh pun akhirnya berbondong-bondong membuat paspor hanya demi melakukan penerbangan ke Jakarta. Hal ini disebabkan karena tiket pesawat ke Jakarta lebih murah jika berangkat dari Kuala Lumpur. Dan sangat mahal jika berangkat dari Aceh. (Wowkeren.com)

 Dengan banyaknya keluhan tersebut, masyarakat pun membuat petisi untuk beberapa pihak. Petisi di Change.org ini dibuat oleh masyarakat bernama Iskandar Zulkarnain untuk Presiden Joko Widodo, Menteri Perhubungan Budi Karya, Menteri Keungan Sri Mulyani, Direktur utama Garuda Indonesia, CEO Garuda Indonesia, dan CEO Lion Air. Hingga tulisan saya ini dibuat, petisi ini sudah ditandatangani lebih dari 6.500 masyarakat.

Tak Tahan Lagi dengan Kebijakan Sadis Pemerintah

 Adanya keluhan keluhan dan petisi yang berhasil ditandatangani oleh banyak masyarakat menandakan bahwa masyarakat benar-benar kesulitan dan menjerit dengan adanya kebijakan kebijakan baru yang justru menyengsarakan mereka. Seperti yang kita ketahui, banyak perluasan jalan tol di berbagai daerah seakan membuat pengalihan isu terkait melambungnya tiket pesawat. Belum lagi masalah sosial, seperti kasus narkoba yang kian merajalela, perzinahan, LGBT yang semua ini seakan dibiarkan tanpa diberi solusi tuntas dan menyeluruh dari pihak pemerintahan. Perluasan ruas jalan tol membuat masyarakat teralihkan perhatiannya dari harga tiket yang semakin naik, BPJS yang semakin menyusahkan, belum lagi harga listrik yang naik dan stabil kenaikannya, dan bahkan banyak kebutuhan pokok yang diam-diam naik.

 Hal ini, jika kita tidak melakukan upaya menyeluruh untuk mengantisipasi atau menasihati pemerintah atas kelalaiannya, maka akan sangat fatal akibatnya bagi generasi dan bangsa kedepannya. Masyarakat akan semakin tercekik di negeri yang kaya. Para orang tua akhirnya selalu khawatir terhadap pergaulan dan moral putra-putrinya ketika di luar rumah, belum lagi memikirkan semua kebutuhan pokok dan sekunder yang semakin naik. Apalagi pemerintah yang masih terjerat hutang dengan berbagai Negara adidaya. Bisa saja suatu waktu Negara tersebut menagih utang mereka secara kasar apabila pemerintah sekarang tidak bijak dalam mengelola dan meminimalisir adanya barang impor yang justru semakin memperbesar hutang-hutang dan kerumitan bangsa ini.

Baca Juga:   Otot Karena Otak

Islam, Solusi untuk Permasalahan Seluruh Alam

 Suatu ketika, teman istri khalifah Umar bin Abdul Aziz datang bertamu. Di sudut ruangan, dia melihat sesosok laki-laki yang sangat kurus badannya, dan sangat basah kelopak matanya sedang bersimpuh di hadapan RabbNya. Lalu si wanita ini bertanya? “Siapakah laki-laki itu? Apa dia pembantumu?”, istri khalifah pun menjawab, ‘Bukan. Itu suamiku. Setiap hari dia dilanda kesedihan dan susah tidur akibat memikirkan nasib nasib akyatnya yang kesulitan dan kemiskinan.’

 Betapa terkejutnya wanita tersebut melihat kondisi Khalifah atau pemimpin tertingginya umat ini. Sebelumnya, beliau adalah anak dari orang yang berkecukupan. Namun, setelah menjadi pemimpin, semua orang terkesima dengan kezuhudan dan ketakutannya terhadap hukum-hukum Allah yang tidak ia tunaikan, dan kekhawatirannya tidak dapat menyejahterakan rakyat. Dia tidak mengambil harta rakyat, justru hartanyalah yang digunakan untuk kepentingan rakyat. Ia hanya memiliki visi dan misi yang paling utama, yaitu merawat atau mengayomi masyarakat sebagaimana mandat yang diamanahkan oleh syariat islam.

 Di bawah pemimpin ini, kesejahteraan masyarakat begitu mencengangkan dunia, hingga penerima zakat tak ditemukan. Semua berlomba-lomba mengeluarkan kelebihan hartanya, karena semua benar-benar sangat berkecukupan diayomi penguasanya, hingga bahkan tak perlu lagi bekerja. Belum lagi para jomblo yang dimudahkan dalam pernikahannya, hingga tak ada generasi muslim yang melakukan tindakan tak senonoh karena akan mendapatkan hukuman yang sangat tegas dari penguasa Khalifah Umar Bin Abdul Aziz.

 Itu sepenggal kisah sejarawan, bukan hanya sekadar pencitraan karena unsur kemanfaatan. Tapi kesejahteraan itu adalah hasil dari iman dan ketaatan. Bukan karena unsur ingin dilihat, tapi ia mengayomi masyarakatnya karena takutnya pertanggungjawaban yang besar terkait kepemimpinannya. Ia mengayomi masyarakat bukan untuk mendapatkan pujian masyarakat,tapi karena ahlaknya yang sangat baik dan berpegang kuat pada hukum-hukum Allah. Hingga tak mustahil, tak ditemukan orang miskin selama kekuasaannya berlangsung.

 Tentu hal semacam ini tak ditemukan di sistem demokrasi buatan manusia yang di mana kekuasaan dicari dengan harga tinggi, kekuasaan diterima bukan karena kepercayaan karena kuatnya iman dan kompetensi layaknya kepemimpinan. Berapa banyak sudah kita temukan coblosan-coblosan tanpa nama di tempat tempat pemungutan suara? Berapa banyak pesantren dan pondok-pondok yang didatangi dan diayomi hanya untuk meminta mereka mencoblos dirinya? Berapa banyak orang disogok untuk mencoblos parlemennya? Tahun 2019 akan mengalami pesta pilpres (pemilihan presiden) dan pesta pileg (pemilihan legislatif), apa yang akan kita lihat? masyarakat begitu dipedulikan ketika prapesta demokrasi. Dibuatkan jalan tol, dipenuhi kebutuhannya, dibagikan uang dengan target meraih kursi dan kemenangan. Namun, coba kita perhatikan pasca ia meraih kemenangan? Ummat kembali diderai air mata dan kesusahan. Biaya hidup kian mahal, masuk jalan tol mahal, tiket pesawat domestik sangat mahal, sedangkan gaji para pegawai sipil dan guru di bawah standar.

 Saatnya ummat bermuhasabah. Saatnya ummat rindu dan menyongsong keadilan dan kesejahteraan abadi dibawah naungan syariat dan hukum-hukumNya di mana para pemimpin dipilih karena iman dan ketaatannya, bukan karena harta dan seberapa besar uang sogokannya.

 Mari kita meraih sistem yang paling mengayomi. Penghilang kesenjangan dengan sistem ekonomi Islam, pencetak generasi tangguh dan kuat iman dengan sistem pergaulan, perundang-undangan, serta sistem pendidikan yang berasas Islam. para pemuda yang tangguh dan cinta agama dan bangsa, hingga tak akan diam jika agama dinista, atau negeri mereka dijajah secara perlahan-lahan oleh Negara adidaya. Karena hukum keadilan yang baku hanya bersumber dari Alquran dan hadits. Hukum yang memanusiakan manusia. Dan mengelola sumber daya alamnya dengan sebaik baik pengelolaan oleh pihak Negara, bukan swasta. Hingga penghasilan yang di dapat dari sumber daya alam itu digunakan untuk mensejahterakan masyarakat.

Baca Juga:   Serba-Serbi Nasihat Anti Jomblo

 Hanya hukum dan sistem Islamlah yang mampu mengubah keadaan yang sangat carut-marut di semua bidang ini dengan kedamaian abadi. Kedamaian karena mentaati syariatnya, dan hidup bersistem dengan sistemNya.

Wallahu a’lam bishshawwab.

Reactions

Nobody liked ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *