Menangkal Skeptisisme Agama4 menit

Please log in or register to like posts.
News
skeptisisme agama

   Topik ini dikutip dari sebuah buku yang berjudul “Islam, Doktrin, dan Isu-Isu Kontemporer: Refleksi, Eksplanasi, dan Argumentasi” karya Prof. Dr. H. Faisal Ismail, M.A. pada bagian Isu-Isu Keumatan dan Masyarakat tentang Menangkal Skeptisisme Agama.

  Tidak dapat disangkal bahwa akal atau rasio adalah alat yang sangat ampuh bagi manusia. Dengan perangkat akal budinya, manusia menciptakan kebudayaan dan peradaban yang tidak sama di setiap kurun waktu. Pada mulanya, kebudayaan dan peradaban manusia sangat bersahaja, lalu berkembang ke tingkat yang lebih maju. Kemudian, setelah melalui proses yang panjang, kebudayaan dan peradaban manusia meningkat lagi ke taraf yang sangat maju dan canggih. Kreativitas manusia dalam mengembangkan kebudayaan dan peradabannya dipicu oleh olah pikir akal budinya yang sangat menakjubkan. Dewasa ini, perkembangan sains dan teknologi telah membawa kebudayaan dan peradaban manusia ke tingkat kemajuan yang sangat mengagumkan.

 Dengan kemajuan sains dan teknologi yang modern dan canggih, kini manusia dapat berkomunikasi hingga ke jarak yang sangat jauh dengan menggunakan alat komunikasi seperti telepon dan satelit. Globalisasi telah membuat komunikasi dan hubungan antarmanusia dan antarbangsa dipermudah dengan peralatan modern yang serba canggih itu. Di balik hal-hal positif yang disuguhkan modernisasi dan globalisasi, teknologi modern memiliki efek samping bagi kehidupan keagamaan seseorang. Jika pondasi kepercayaannya tidak kuat, maka justru kemajuan sains dan teknologi modern dapat menyorongkan skeptisisme agama (religious scepticism) dalam dirinya.

 Skeptisisme agama menyeruak dalam diri seseorang jika ia hanya melihat sebatas segi kegunaan applied science (ilmu terapan). Jika seseorang hanya melihat aspek luar dan segi kegunaan teknologi, maka ia rentan mengalami skeptisisme agama.

 Menarik bagi kita jikalau membahas apa itu skeptisisme agama. Namun, terlebih dahulu kita mendefinisikan apa yang dimaksud dengan skeptisisme tersebut.

Skeptisisme adalah paham yang memandang sesuatu selalu tidak pasti (meragukan, mencurigakan).

 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata skeptisisme berasal dari kata skeptis yang berarti kurang percaya; ragu-ragu (terhadap keberhasilan ajaran dan sebagainya). Jadi, skeptisisme merupakan suatu paham yang di mana memandang sesuatu dengan keragu-raguan dan menaruh curiga padanya. Dalam penggunaan sehari-hari, kata skeptisisme ini dapat diartikan sebagai:

  1. Suatu sikap keraguan atau disposisi untuk keraguan baik secara umum atau menuju objek tertentu;
  2. Doktrin yang benar ilmu pengetahuan atau terdapat di wilayah tertentu belum pasti; atau
  3. Metode ditangguhkan pertimbangan, keraguan sistematis, atau kritik yang karakteristik skeptis (Merriam-Webster).

 Dalam agama, skeptisisme diartikan dengan paham yang mempertanyakan merujuk kepada “keraguan tentang prinsip-prinsip dasar agama (seperti keabadian, pemeliharaan, dan wahyu).” Oleh karena itu, skeptisisme agama adalah paham yang di mana menaruh keraguan dan kecurigaan terhadap unsur dasar yang terdapat dalam ajaran agama.

 Orang-orang yang telah terjerumus kepada skeptisisme agama itu sendiri lebih percaya kepada kekuatan dan keandalan sains dan teknologi yang memberikan kemudahan, kenyamanan, dan “berkah” kepada manusia. Kemudian, mereka lantas berkeyakinan bahwa sains dan teknologilah yang mampu menguasai dan mengendalikan hidup ini. Hal tersebut dapat menjerumuskan seseorang kepada Agnostik (Pandangan bahwa manusia saat ini tidak memiliki pengetahuan yang diperlukan dan/atau alasan untuk memberikan landasan secara rasional yang cukup untuk membenarkan keyakinan bahwa dewa/tuhan baik melakukan atau tidak ada) dan bahkan Atheis (Tidak memercayai akan keberadaan/eksistensi Tuhan). Perasaan Ketuhanan dan keagamaan dalam dirinya telah menggerus dan dangkal. Oleh sebab itu, skeptisisme agama harus dicegah dan ditangkal. Tepat sekali sistem pendidikan kita yang berupaya menyeimbangkan antara imtak (iman dan takwa) dengan imtek (ilmu dan teknologi).

Baca Juga:   Propaganda Jomblo dan Film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI

 Dengan memadukan, mengintegrasikan, dan menyeimbangkan antara pendidikan agama dengan pendidikan umum, maka dengan ini diharapkan mampu menangkal dan mencegah skeptisisme agama agar ke depannya kita mampu memahami dengan baik terkait sains dan teknologi yang notabenenya juga dibahas dalam ranah agama.

 Ada pula cara yang lain yang dapat menangkal atau mencegah timbulnya paham skeptis yang mengacu kepada agama, yakni dengan cara melakukan pendalaman pengetahuan keagamaan agar dapat memberikan pencerahan yang baik kepada diri sendiri maupun orang lain.

 Sekiranya kita dapat mengambil sedikit kesimpulan terkait apa yang telah dibahas bahwa cara menangkal atau mencegah timbulnya skeptisisme agama, yakni dengan cara mengintegrasikan antara pendidikan agama dengan pendidikan umum (seperti sains dan teknologi, sosial dan budaya, dan sebagainya) agar kita terhindar dari kedangkalan dalam berpikir dan kedangkalan dalam bertindak. Kemudian, kita mesti mendalami pengetahuan tentang agama agar dapat diintegrasikan dengan pengetahuan lainnya yang mampu menangkal pemahaman skeptis terhadap agama.

 

 Mungkin itu saja yang dapat saya paparkan terkait bagaimana skeptisisme agama itu sendiri dan bagaimana cara untuk menangkalnya. Sekian dan terima kasih. Mohon maaf apabila ada kekurangan dan kekeliruan. Saya akhiri dengan kalimat hadanallahu wa iyyaakum ajma’in tsumma as-salaamu ‘alaikum wa rahmatullah ta’aala wa barakaatuh.

 

Sumber ilustrasi: https://www.qureta.com/

Reactions

Nobody liked ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *