Peringatan Hari Gizi, Sudahkah Gizi Rakyat Terpenuhi?6 menit

Please log in or register to like posts.
News

 Tanggal 25 Januari selalu diperingati dengan hari gizi dan makanan. Gizi sebenarnya berasal dari kata serapan bahasa arab gizzah yang mempunyai arti makanan sehat. Dan seberapa pentingnya gizi sampai saat ini adalah satu agenda terbesar di Indonesia dalam hal perbaikannya. Karena ini pula muncul slogan “Empat Sehat Lima Sempurna” yang sering kita dengar.  Dan persoalan gizi sebenarnya sudah diperkenalkan sejak lama oleh Bapak Gizi Nasional Indonesia kita, yaitu Prof. Poerwo Soedarmo dari sejak awal kemerdekaan. Karena gizi memang sangat penting dalam kehidupan kita sebagai masyarakat yang berbangsa dan bernegara.

 Pada saat awal kemerdekaan, kondisi gizi masyarakat Indonesia memang tidak terlalu baik. Oleh karena itu, Menteri Kesehatan RI saat itu, J. Leimena meminta Prof. Poerwo untuk mengepalai Lembaga Makanan Rakyat atau LMR yang pada saat itu bernama Institut Voor Volksvoeding (IVV) yang merupakan lembaga penelitian kesehatan agar bisa mengatasi permasalahan gizi masyarakat Indonesia. Itu karena kondisi masyarakat Indonesia yang bisa dibilang berada di dalam area kemiskinan dan kurangnya kesadaran akan makanan sehat sehingga kondisi kesehatan masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan dan terbelakang.

 Melihat kondisi tersebut, Poerwo melaksanakan beberapa program untuk mengatasi hal tersebut. Prioritas pertama dan utama pada saat itu adalah untuk menumbuhkan kesadaran serta pendidikan akan pentingnya gizi yang sehat pada masyarakat. Namun, karena kondisi masyarakat Indonesia yang pada saat itu rata-rata masih buta aksara dan kurang mampu. Beliau membentuk kader-kader pendidikan gizi dimana nantinya mereka yang akan langsung berinteraksi dengan masyarakat yaitu dengan cara mendirikan Sekolah SDPM (Djuru Penerang Makanan) pada tahun 25 Januari 1951. Kegiatan yang dilakukan adalah memberikan pendidikan mengenai pentingnya gizi bagi tubuh dan kesehatan, selain itu mereka juga mereka melakukan penelitian terhadap pola makan dan penyakit yang berhubungan dengan makanan pada masyarakat.

 Setelah SDPM didirikan, tak lama kemudian juga turut berdiri beberapa sekolah-sekolah tentang gizi dan kesehatan seperti misalnya APN (Akademi Pendidikan Nutrisionis) tahun 1956 dimana sekolah tersebut beralih nama menjadi Akademi Gizi setelah Poerwo meminta masukan tentang nama dari ahli bahasa, Harjati Soebadio, agar mempunyai nama yang mencirikan kultur Indonesia. Sejak mulai saat itu, istilah gizi menjadi sangat popular terutama setelah pengukuhan Profesor Djuned D. Poesponegoro yang menjadi guru besar penyakit anak pada FKUI. Sedangkan Poerwo sendiri ditetapkan menjadi Guru Besar ilmu Gizi pada tahun 1958. Mulai saat itulah pendidikan pergizian Indonesia terus berkembang termasuk salah satunya pendirian bagian gizi di Fakultas Kedokteran UI (Universitas Indonesia) tahun 1958.

 Dan sampai saat ini pun, banyak lahir organisasi-organisasi di bidang gizi seperti contohnya Persagi (Persatuan Ahli Gizi Indonesia), PDGMI (Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia). Nah, pada tahun 1960-an. LMR (Lembaga Makanan Rakyat) memperingati tentang dimulainya pengkaderan tenaga gizi di Indonesia serta berdirinya Sekolah Juru Penerang Makanan pada tanggal 25 Januari 1951 pada 10 tahun sebelumnya. Lalu kemudian acara tersebut dilanjutkan kembali oleh Direktorat Gizi Indonesia pada tahun 1970-an sampai sekarang. Di mana kita sebagai masyarakat Indonesia akan selalu dingatkan bahwa betapa pentingnya kebutuhan gizi untuk kesehatan serta kecerdasan dalam menunjang pertumbuhan tubuh dan jiwa kita sebagai manusia. Seperti yang kita ketahui, gizi merupakan kumpulan zat penting yang ada pada makanan erupa mineral, protein, vitamin, lemak, karbohidrat dan juga air. Di mana zat zat tersebut sangat dibutuhkan oleh tubuh kita terutama oleh balita dan anak-anak yang masih memulai untuk menapaki dunia ini. Namun, apakah dengan peringatan hari Gizi saat ini, mampu mencukupkan kebutuhan gizi masyarakat Indonesia?

Baca Juga:   Pemuda yang Terpenjara dalam Iklim Akademis yang Tidak Mau Berganti Musim

Peringatan Tanpa Adanya Perubahan

 Seperti yang dilansir oleh Tribunnews.com, pada 18 january 2019 Gizi buruk dapat terjadi pada semua kelompok umur, tetapi yang perlu lebih diperhatikan yaitu pada kelompok bayi dan balita. Lily Arsanti Lestari, Dosen Gizi Kesehatan UGM mengatakan pada usia 0-2 tahun merupakan masa tumbuh kembang yang optimal (golden period), sehingga pemenuhan gizi seimbang harus diperhatikan. Diterangkannya, bila terjadi gangguan pada masa ini tidak dapat dicukupi pada masa berikutnya dan akan berpengaruh negatif pada kualitas generasi penerus.

 Status gizi balita dapat diukur dengan indeks berat badan per umur (BB/U), tinggi badan per umur (TB/U) dan berat badan per tinggi badan (BB/TB). Berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) yang dilakukan Kementerian Kesehatan pada tahun 2016, status gizi pada indeks BB/U pada balita 0-59 bulan di Indonesia, menunjukkan persentase gizi buruk sebesar 3,4%, gizi kurang sebesar 14,4% dan gizi lebih sebesar 1,5%. Sedangkan provinsi dengan gizi buruk dan kurang tertinggi pada usia tersebut adalah Nusa Tenggara Timur (28,2%) dan terendah Sulawesi Utara (7,2%). Kemudian, hasil pengukuran status gizi PSG 2016 dengan indeks BB/U pada balita 0-23 bulan di Indonesia, menunjukkan persentase gizi buruk sebesar 3,1%, gizi kurang sebesar 11,8% dan gizi lebih sebesar 1,5%. Sedangkan provinsi dengan gizi buruk dan kurang tertinggi tahun 2016 pada usia tersebut adalah Kalimantan Barat (24,5%) dan terendah Sulawesi Utara (5,7%).

 Menurut Lily, banyak faktor yang menyebabkan persoalan gizi buruk dan kurang di Indonesia. Ia menceritakan, pada tahun 2010, tim dari UGM pernah bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Asmat, Papua untuk meneliti persoalan gizi di sana. Menurutnya, dari hasil penelitian tersebut, bahwa faktor seperti akses trasnportasi yang sangat susah (infrastruktur) serta budaya makan menjadi faktor penyebab gizi buruk di Asmat. “Daerahnya sulit dijangkau, kemudian biaya mahal yang mempengaruhi daya beli, infrastruktur juga mempengaruhi. Kemudian budaya makan, hasil ikan di Papua sangat potensial, tetapi untuk dijual, kalau tidak laku malah dibuang tidak dikonsumsi sendiri. Mereka tidak terbiasa makan itu,” tutur Lily kepada tribunjogja.com, Kamis (25/1/2018). Ditambahkannya, sehingga bukan hanya ahli gizi dan tenaga kesehatan yang perlu terlibat, tetapi dikaji dalam segi sosiologi dan antropologi juga penting dilakukan.Selain itu, pola makan dan ketersediaan pangan juga menjadi faktor penyebabnya gizi buruk di Indonesia.

Solusi Islam Mengatasi Gizi Buruk

 Dalam Islam, gizi buruk merupakan tanggung jawab negara. Sesuai dengan hadits:

 “Kamu semuanya adalah penanggungjawab atas gembalanya. Maka, pemimpin adalah penggembala dan dialah yang harus selalu bertanggung jawab terhadap gembalanya.”  (H. R. al-Bukhâri, Muslim, Abû Dâwûd, dan at-Tirmîdzi dari Ibn Umar).

 Dengan demikian, sudah selayaknya dalam Islam, negara memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada rakyat. Salah satunya, memberikan asupan gizi yang cukup. Karena semua merupakan tanggung jawab negara. Dalam sirah dikisahkan bagaimana khalifah Umar bin Khattab setiap malam datang, beliau tidak pernah tidur nyenyak. Karena beliau khawatir masih terdapat rakyatnya yang lapar. Khalifah umar sering melakukan sidak ke rumah-rumah penduduk untuk melihat bagaimana kondisi rakyatnya, ketika ditemukan, terdapat keluarga yang sedang memasak batu, maka khalifah Umar langsung bergegas memanggul sekarung gandum untuk keluarga tersebut.

 Sungguh luar biasa fenomena yang mungkin jarang bahkan belum pernah dilakukan oleh pemimpin saat ini. Saat malam datang mungkin mereka tidur nyenyak berselimutkan kemewahan. Seolah kondisi rakyat yang bergelimpangan dengan gizi buruk menjadi hal yang wajar, padahal itu semua akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Baca Juga:   Makna Lailatul Qadar

 Dalam sistem Islam, Pemimpin berkewajiban untuk mengurusi rakyatnya dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup, seperti pendidikan, kesehatan, lapangan pekerjaan, dan sebagainya. Pemimpin tidak akan membiarkan rakyatnya hidup dalam kemiskinan yang berdampak terjadinya gizi buruk. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW.:

“Seorang pemimpin adalah pemelihara dan dia bertanggung jawab terhadap peliharaannya.” (H. R. Imam Bukhari dan Muslim).

 Oleh karena itu, jika kita ingin hidup berkah dan bebas dari gizi buruk maka solusi yang sangat rasional adalah terapkan Islam. Allah SWT. berfirman yang artinya:

 Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (Q. S. Al-A’raf [7]: 96)

 Sistem kapitalisme yang tidak bersumber dari Allah swt., tentu membawa kerusakan dan penderitaan karena sistem tersebut merupakan buatan manusia. Firman Allah SWT:

 “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Q. S. Ar-Ruum [30]: 41).

 Kerusakan yang terjadi termasuk persoalan gizi buruk adalah akibat dari perbuatan manusia sendiri, yang berhukum kepada selain hukum Allah. Karena itu, kita harus kembali kepada hukum yang telah ditetapkan Allah dengan menerapkan sistem Islam, sesuai dengan manhaj kenabian. Dialah Maha Pencipta dan Maha Pengatur, paling mengetahui yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama memperjuangkan syariah Islam sebagai kewajiban dari Allah dan demi kemaslahatan umat.

Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Reactions

Nobody liked ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *