Resolusi 2019: Kembali kepada Syari’at Islam4 menit

Please log in or register to like posts.
News

 Tak terasa kita sudah berada di awal tahun baru 2019. Refleksi akhir tahun menjadi pengingat diri kita, terutama bagi Indonesia. 2018 lalu keadaan nasional kita diwarnai dengan berbagai warna di macam bidang. Baik yang berdimensi sosial, ekonomi, politik, dan hal-hal lainnya.

 Secara terus menerus bencana alam melanda bumi pertiwi. Pada tanggal 5 Agustus gempa berkekuatan 6,9 skala richter menghantam pulau Lombok. Gempa ini menelan sekitar 468 korban jiwa. Lalu disusul dengan gempa bumi berkekuatan 7,7 dan tsunami setinggi 1,5 sampai 3 meter di daerah Donggala, Palu. Yang dimana bencana alam ini membawa kehancuran yang sangat banyak di daerah Palu pada akhir bulan September. Bencana ini membuat rata seluruh kota, dan menelan banyak korban serta 330 ribu jiwa harus kehilangan tempat tinggal mereka. Menjelang akhir tahun, kita harus dikejutkan lagi dengan adanya tsunami di daerah Banten dan Lampung pada tanggal 22 Desember. Tsunami ini menelan 222 korban yang meninggal, 843 luka-luka, dan 28 hilang. Akibat tsunami ini, sebanyak 558 unit rumah harus rusak total, 9 hotel bahkan hancur berat, dan 350 perahu nelayan rusak. (BNBP, 23/12). Dan beberapa kecelakaan laut dan udara yang juga sempat tejadi di tahun 2018 ini menambah duka tersendiri bagi berbagai pihak.

 Belum lagi dengan bencana alam yang kecil di beberapa daerah, seperti banjir di daerah Kencong, Jember dan kota-kota lainnya. Terutama kita sebagai umat Islam harus dikejutkan lagi dengan penderitaan atau bencana kemanusiaan yang dialami oleh saudara muslim kita di Uyghur. Mereka ditindas dan tak diperbolehkan untuk beragama. Juga musim dingin yang melanda di negri Yaman dan Palestina yang membuat beberapa saudara Muslim kta harus mati beku karena tak mempunyai pakaian dan tempat tinggal yang layak. Juga dalam dunia perekonomian, kita tak luput dari catatan kelam selama ditahun 2018 ini.

 Dalam tulisan yang diunggah di akun facebook Sri Mulyani Indrawati (Kemenkeu), ia menyatakan bahwa tahun 2018 bukanlah tahun yang mudah bagi pihak kementrian keuangan. Hal ini dikarenakan adanya masalah ekonomi globals sampai gejolak nilai tukar rupiah dan dolar.

Bencana, Peringatan atas Dosa
Dari serangkaian bencana dan catatan hitam di atas, tak terelakkan lagi bahwa 2018 menjadi tahun penuh duka bagi segala pihak, terutama bangsa Indonesia yang harus diterjang masifnya bencana alam. Semua bencana yang melanda negri ini tentunya tak terjadi serta-merta, namun pasti ada suatu alasan kenapa Allah benar-benar menguji dan menghukum kita begitu dahsyat pada tahun 2018. Hal ini sesuai dengan firmanNya.

‘dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka itu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)’ (Q. S. Asy-Syura’:42/30)

 Selaras pula dengan apa yang dikatakan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.

‘Di antara akibat dosa adalah menghilangkan nikmat, dan mendatangkan musibah dan bencana.’

 Maka dari sini kita dapat mengoreksi, wahai saudaraku, tentang dosa-dosa yang kita perbuat, baik secara individu maupun kelompok. Kita bisa lihat bagaimana LGBT yang haram dilegalkan, miras dan narkoba yang jelas haram justru disahkan. Atau justru banyak tradisi yang haram di tengah-tengah kita yang malah sudah menjadi kebiasaan. Semisal riba, pergaulan bebas, saling membunuh, merampok, dan menuduh kaum Muslimin. Hal ini, yaitu kemaksiatan terjadi karena kita sebagai individu ataupun masyarakat telah mencampakkan hukum hukum Allah. Begitu pula hal ini terjadi karena tidak adanya Negara atau system yang mampu memberikan hukuman jera bagi para pelaku maksiat. Hingga tak mengundang murka Allah.

Baca Juga:   Propaganda Jomblo dan Film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI

Resolusi 2019: Kembali kepada Syari’at

 Menyikapi hal-hal ini, tentunya kita butuh solusi dan resolusi ditahun yang baru ini. Seperti kata Resolusi yang memiliki arti memperbaiki solusi, maka solusi ini harus benar-benar solusi yang menuntaskan segala macam problematika kehidupan, baik sososi maupun politik. Kalau kita mau flashback ke surah Asy-Syura’ ayat 30 tadi, maka akar masalahnya adalah akibat perbuatan dan dosa-dosa kita.

 Pada dewasa ini, dosa memang sudah biasa dilakukan karena tak ada yang mengingatkan dan pihak pemerintah pun justru melegalkan dan mengabaikan segala bentuk kemaksiatan yang menjalar ke tubuh-tubuh kaum Muslimin. Maka, solusinya pun hanya satu, yaitu kembali kepada syariat Allah dan menjauhi larangannya agar Allah tak menurunkan bencana dan problematika kehidupan kepada kita.

 Namun, sangat mustahil kita melakukan perubahan kembali kepada syariat ini sendiri, karena bagaimanapun lingkungan akan sangat berpengaruh bagi kita. Maka, disinilah pentingnya kita menerapkan syariat Islam secara sempurna, baik di lini individu, masyarakat, bahkan sampai ke tatanan Negara.

 Karena Islam tak akan bisa terlaksana tanpa adanya sebuah kekuasaan. Maka di sinilah urgensinya memiliki sistem kehidupan yang berbasis syariat Islam dan pemimpin yang mengawal berjalannya syariat di tengah-tengah masyarakat. Jika masyarakat taat terhadap sistem dan pemimpin Islamnya, maka akan barokah negeri ini. Namun, jika mereka menolak dan mengingkari system dan pemimpin Islamnya, maka akan dibinasakan-Nya negeri ini sebagaimana kaum-kaum terdahulu.

Mari kita buat resolusi tuntas bagi negeri kita, yaitu kembali kepada syariat Islam secara sempurna.

Wallahu a’lam.

 

Sumber ilustrasi: http://www.canva.com

Reactions

Nobody liked ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *