Vanessa Angel, Belenggu Seksualitas dan Tubuh yang Terhukum9 menit

Please log in or register to like posts.
News

 Vanessa Angel, artis hitam manis berparas ayu digerebek oleh aparat kepolisian di salah satu hotel di Surabaya. Di daerah yang sama seorang model yang tentu juga berparas rupawan, Avriellia Shaqqila juga dicokok aparat kepolisian. Keduanya diduga terlibat prostitusi Online. Rupanya praktik prostitusi kelas atas yang dilakukan oleh kalangan artis dan model ini tidak pernah susut. Praktik ini telah berlangsung beberapa tahun silam dan rupanya secara senyap tetap berlangsung hingga kini. Ditengarai, selain kedua pesohor rupawan tadi, terdapat 45 artis dan 100 model yang terlibat esek-esek Online. Jumlah yang bisa dibilang cukup fantastis sekaligus mempertegas bahwa praktik ini tidak pernah benar-benar sirna.

 Mengapa para artis dan model tersebut mencebur dalam dunia yang oleh mayoritas orang dicibir sebagai dunia yang muram itu? Bukankah para artis itu bukanlah orang yang serba kekurangan. Mereka adalah golongan orang-orang yang mapan. Vanessa Angel, jika benar ia terlibat dalam dunia remang-remang ini, adalah artis yang masih sering wara-wiri di layar kaca. Beberapa sinetron dibintangi artis manis ini. Jika setiap tayangan sinetron itu ia dibayar 20 juta saja, maka penghasilannya tentu tidak sedikit. Lalu untuk apa ia “melego” tubuhnya dengan harga 80 juta? Nilai yang tak seberapa untuk seorang Vanessa Angel.

 Inikah pemberontakan perempuan atas belenggu seksualitas? Apakah ini sebuah pemakluman bahwa tubuh adalah milik mereka secara hakiki bahwa kenikmatan dan seksualitas juga berada di bawah kuasanya secara absolut? Sebelum menjawab itu, membuka kembali lembar catatan seorang intelektual poststrukturalis; Michel Foucault, menjadi menarik dalam hal ini. Foucault bilang begini;

The history of sexuality is the history of our discourses on sexuality”.

 Sejarah tentang seksualitas dan tentu saja tubuh yang juga terlibat di dalamnya adalah sejarah tentang diskursus seksualitas atau sejarah tentang pengetahuan yang membicarakan tentang seksualitas. Dengan kata lain, membincang seksualitas dalam rentang sejarah, bukanlah mendedahkan seksualitas yang alamiah dan dilakukan secara natural, tapi sejatinya kita sedang membicarakan praktik yang dibentuk dan dikendalikan oleh pengetahuan tertentu. Keseluruhan aturan, norma, kepantasan, seksualitas yang sehat, hubungan kelamin yang normal, dan apapun yang terkait dengan seksualitas adalah konstruksi yang berasal dari luar dirinya. Konstruksi itu berasal dari pengetahuan yang dibentuk agama, medis, psikologi bahkan ekonomi.

 Pandangan yang senada dengan Foucault ini meruak di kalangan intelektual, setelah Sigmund Freud muncul dengan psikoanalisisnya yang berbeda dari kalangan mainstream. Dalam pandangan Freud, hubungan seksualitas bukanlah sesuatu yang alamiah atau berangkat dari basic instinct (id) seorang manusia, ia justru dibentuk dari luar diri individu (super ego). Jeffrey Weeks (1981) lantas memperjelasnya bahwa seksualitas dalam pengertian Freud ini adalah seksualitas yang dibentuk oleh berbagai pengaturan sosial, sistem kekeluargaan, dan juga sistem ekonomi yang berlangsung dalam masyarakat.

 Walaupun banyak yang membicarakan seksualitas sebagai konstruksi sosial dan pengetahuan, namun Foucaultlah yang secara gamblang membabarkan bagaimana tiap-tiap era dengan corak pengetahuannya masing-masing membentuk dan mendefinisikan seksualitas ini. Menurut Foucault, pengaturan seksualitas yang sangat ketat di Barat, terjadi pada rezim Victorian. Masa itu raja berkuasa penuh untuk mengatur aktivitas seksualitas melalui legitimasi gereja. Era itu, demikian Foucault, seksualitas yang tadinya menjadi hal yang biasa dan diperbincangkan secara bebas di ruang publik dihela ke ruang privat dan menjadi hal yang rahasia. Sialnya, kendati digiring ke ruang yang sangat privat, namun individu-individu senyatanya tidak lagi bebas untuk merayakannya. Seksualitas dan tubuh individu yang sangat privat malah diatur dan ditundukkan dari luar oleh rezim Victorian dengan berbagai norma.

Baca Juga:   Hasrat Konsumtif Game Online: Mobile Legend Bang Bang

 Era Victorian inilah yang menandai seksualitas di abad modern. Seksualitas yang dibelenggu dengan segala macam norma dan tabu. Seksualitas yang telah ditetapkan mana yang benar dan mana yang keliru, sudah ditentukan mana yang sehat dan mana yang kotor. Bahkan dalam era ini, seksualitas juga diatur untuk kepentingan ekonomi. Singkat kata, tubuh menjadi medan kekuasaan rezim-rezim dari luar individu bersangkutan. Seksualitas, dengan demikian, bukan lagi menjadi arena bersenang-senang, sarana mencari kenikmatan, pleasure dan apalagi memenuhi kebutuhan rohani, sebaliknya seksualitas berubah menjadi sarana pendisiplinan.

 Salah satu sarana untuk keluar dan membebaskan diri dari telikungan rezim-rezim kekuasaan atas seksualitas dan tubuh adalah melalui jalur prostitusi dan seks menyimpang. Steven Marcus menyebut dua hal itu sebagai “Victorian Lian” (The other victorian). Melalui dan dalam prostitusi serta seks menyimpan itulah individu diklaim menemukan kembali sekaligus merayakan kebebasan atas tubuh individunya. Bila demikian, mengulang kembali pertanyaan sebelumnya, mungkinkah yang sedang dilakukan oleh Vanessa dan beberapa artis yang ditengarai terlibat prostitusi Online adalah bentuk pemberontakan itu? Betulkah mereka sedang merayakan kebebasan atas tubuh mereka sendiri. Berselancar untuk merengkuh kenikmatan tanpa batas atas kuasa sendiri? Boleh jadi demikian. Namun ada satu hal yang dilupakan dalam era modern, hasrat, kenikmatan, dan seksualitas juga banyak ditentukan oleh kepentingan kapitalis.

 Dalam pengertian ini, seseorang yang melakukan aktivitas seksualitas melalui prostitusi dan seks menyimpang, boleh jadi terperangkap dalam konstruksi tentang hasrat, kenikmatan dan seksualitas yang dicitrakan oleh industri seksualitas itu sendiri. Dengan kalimat yang lebih tegas, praktik ini alih-alih sebagai sebuah pemberontakan dan perayaan kebebasan, sebaliknya praktik tersebut justru terjerumus dalam perangkap kaum borjuis-kapital, yang mengelola industri seksualitas tersebut. Sejatinya tidak ada individu dalam era modern ini yang sungguh-sungguh bisa membebaskan dirinya dari kekuasaan dan belenggu dari luar, kendati ia menempuh jalur ‘Victorian Lian’, yakni prostitusi. Mereka yang menempuh jalur itu, meskipun bukan dengan tujuan ekonomi, tetap masuk dalam perangkap kekuasaan di luar dirinya. Kenikmatan yang mereka buru ternyata adalah kenikmatan yang dibentuk oleh sistem di luar individu bersangkutan. Apalagi jika praktik ini menjadi semacam gaya hidup dan tipikal pergaulan kaum sosialita, maka hampir bisa dipastikan mereka telah terjebak dalam permainan ‘simularka seksualitas’. Permainan ini adalah sebentuk penawaran kenikmatan seks di luar yang dibutuhkan oleh tubuh, tapi lebih pada menawarkan citra diri dalam kancah pergaulan high class.

 Terlebih jika saluran prostitusi itu dipilih untuk kepentingan memenuhi kebutuhan hidup, tepatnya kebutuhan akan gaya hidup, maka jelaslah mereka hanyalah orang-orang yang diatur oleh jaringan kapitalisme. Bukan rahasia lagi para artis dituntut memiliki barang-barang yang mahal dalam aktivitas sosialita mereka. Mereka dituntut pula oleh industri film, model dan iklan untuk tetap memiliki tubuh yang aduhai dan paras yang jelita. Untuk semua itu tentu saja mereka membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Salah satu jalan yang bisa ditempuh untuk memenuhi itu semua dengan cara mudah sekaligus nikmat ya… tak lain melalui esek-esek online tersebut.

 Kenyataan ini menunjukkan bahwa seksualitas dalam era modern ini bagaimana pun bentuknya, tak bisa melepaskan diri dari belenggu. Anda boleh berupaya lepas dari norma, aturan agama dan ketentuan medis, tapi Anda akan kesulitan melepaskan diri dari jeratan kapitalisme. Dengan demikian seksualitas yang bebas dan tubuh yang betul-betul independen hanyalah omong kosong kaum liberal. Kelompok yang terakhir ini hanya ingin menggeser kuasa atas tubuh dari agama dan etika ke kuasa kapitalisme. Dengan demikian era yang berlangsung pada awal abad ke-17, yang oleh Foucault (1976) dianggap longgar dalam menerapkan aturan seksualitas, bisa dibilang mustahil terulang lagi saat ini.

Baca Juga:   Jadilah Profesor Penumpuk Tugas

Pendisiplinan dan Penghukuman Tubuh Perempuan

 Pengaturan seksualitas masa Victorian yang kemudian berlanjut pada masa modern, menjadikan tubuh perempuan sebagai objek yang utama. Di banding tubuh laki-laki, tubuh perempuanlah yang diatur lebih detail dan ketat. Gereja yang menjadi alat legitimasi rezim Victorian menjadikan tubuh perempuan sebagai objek pengaturan. Pada masa itu tubuh perempuan harus dibatasi keberadaannya di ruang publik, mereka harus lebih banyak dikurung di ruang privat karena ditakutkan akan mengganggu tabu seksualitas yang telah ditetapkan. Bila pun harus ke ruang publik, maka seperangkat aturan telah disiapkan, misalnya tidak bisa memamerkan hal-hal yang bisa menimbulkan hasrat. Sikap, cara berjalan, bahkan juga cara mengekspresikan wajah harus diatur sedemikian rupa.

 Pengaturan tubuh perempuan yang lebih ketat dibanding tubuh laki-laki tidak hanya terjadi di kalangan gereja dan berlangsung di Eropa, namun juga muncul pada agama-agama lain dan terjadi di luar Eropa. Singkat kata, dunia saat itu serentak memojokkan perempuan dalam diskursus seksualitas. Tubuh-tubuh perempuan dijadikan objek-objek pendisiplinan dan pengawasan.

 Indonesia sendiri menerapkan aturan yang mengontrol tubuh perempuan nyaris seirama dengan negara lain. Beberapa daerah di Indonesia ketika menerbitkan aturan berbasis agama, yang paling banyak diatur dan dikontrol adalah perempuan. Contoh dalam hal ini adalah aturan busana religius. Dalam aturan ini perempuanlah yang dibuatkan aturan lebih ketat; harus menutup kepala, tidak boleh memperlihatkan rambut, pakaian harus menutup dada dan seterusnya. Contoh lain; ‘Larangan duduk mengangkang bagi perempuan jika berkendara’.

 Tidak hanya agama, disiplin pengetahuan kependudukan dan medis pun lebih banyak mengontrol perempuan dalam soal seksualitas ini. Misalnya dalam soal pengaturan kelahiran, tubuh perempuanlah yang dominan diatur untuk hal tersebut. Termasuk pula dalam hal kesehatan reproduksi, lagi-lagi tubuh perempuanlah yang dikontrol.

 Dalam menjalankan norma, etika, estetika dan seni, lagi-lagi tubuh perempuan yang dikontrol. Perempuan dikontrol dalam berbusana, diatur soal kecantikannya dan ditata bagaimana semestinya ketika kecantikan itu dipajang di ruang publik. Begitu pun saat melakukan hubungan seksualitas, untuk mendapatkan kenikmatan, tubuh-tubuh perempuan pun diatur sedemikian rupa; posisinya harus di mana, gerakannya seperti apa dan sebagainya. Singkat kata, nyaris semua gerak-gerik perempuan yang melibatkan tubuhnya dikontrol sedemikian rupa.

 Karena pengaturan seksualitas di era Victorian dan era modern lebih banyak mengontrol perempuan, maka jika terjadi penyimpangan seksualitas, tubuh perempuan pulalah yang cenderung mendapatkan hukuman. Contoh yang paling sering muncul di sekitar kita adalah ketika terjadi kasus asusila; seks bebas atau bahkan pemerkosaan, yang pertama-tama menjadi sasaran adalah perempuan. Mereka dianggap tidak bisa menjaga diri, bergaul bebas dan mempertontonkan aurat sehingga menimbulkan hasrat laki-laki. Laki-laki sendiri biasanya hanya mendapat hukuman dalam pengadilan.

 Kasus yang paling anyar tentulah kasus Vanessa Angel ini. Ketika kasus prostitusi Online terkuak, tubuh Vanessa Angel-lah yang dihukum ramai-ramai. Dia pun dipersepsi sebagai gadis yang liar, susah diatur sekaligus gambar wajahnya bahkan tubuhnya dipertontonkan ke mana-mana. Ini adalah bentuk penghukuman sosial yang justru lebih berat daripada hukum di pengadilan. Jika di pengadilan hanya mendisiplinkan dan menormalisasi tubuh individu dengan menghukumnya di penjara, maka menghukum tubuh Vanessa dengan memajang di depan publik sama dengan memamerkan contoh tubuh yang kotor dan asusila. Cara seperti ini akan menikam psikologi yang bersangkutan sehingga bekasnya tertinggal lama dalam ingatan. Sementara itu, laki-laki yang terlibat dalam hal ini, tubuhnya tetap dilindungi, ditutup rapat-rapat, seakan-akan dalam hal ini tubuh laki-laki itu hanyalah korban dari tubuh perempuan yang telah membangkitkan hasrat kelaki-lakiannya. Bahkan kaum kapital yang mengelola bisnis prostitusi Online ini yang kemungkinan berjenis kelamin laki-laki pula, tubuhnya pun tetap dilindungi rapat-rapat. Jelaslah dengan demikian, dalam pendisiplinan seksualitas dan penghukuman atas pelanggaran terhadap pengaturan tersebut, lebih banyak mengorbankan tubuh perempuan. Parafrase saya yang terakhir ini bukan bermaksud mengatakan bahwa seksualitas tidak perlu lagi diatur, tetapi jika harus diatur, maka aturannya harus memperlakukan secara adil tubuh perempuan dan laki-laki. Jika hal itu mau dilakukan maka normalisasi seksualitas era modern yang berangkat dari rezim Victorian perlu ditilik ulang. Ajaran agama, aturan medis, regulasi kependudukan yang berperan serta dalam mengatur seksualitas ini harus mengalami pembacaan ulang (rereading). Semoga dengan itu tidak ada lagi tubuh perempuan yang jadi korban penghukuman.

Baca Juga:   Potret Suram Dunia Pendidikan

 

(sekian)

 

Sumber ilustrasi: https://m.liputan6.com/

Reactions

Nobody liked ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *