Gaun Hijau Nyi Roro Kidul5 menit

Please log in or register to like posts.
News

GAUN HIJAU NYI RORO KIDUL

 

Entah kenapa Ratri ingin sekali mengenakan gaun pengantin berwarna hijau pada hari pernikahannya. Seperti mengandung daya magnet, gaun pengantin berwarna hijau selalu membayanginya semenjak Weddy mengajukan lamaran tiga minggu yang lalu. Pemuda hitam manis bersorot mata tajam namun lembut tutur katanya mampu mengikat hati Ratri untuk memantapkan langkah menuju jenjang pernikahan. Berdekatan dengan pemuda itu, Ratri merasakan kedamaian yang menelusup jauh ke relung hatinya. Seperti ada perasaan tenang yang tak dapat digambarkan, dan hanya Ratri yang merasakannya. Tanpa ragu, Ratri menganggukkan kepala saat pihak keluarga pelamar menanyakan kesediaannya menjadi istri Weddy.

Hijau adalah warna kesukaan Ratri. Rasanya pasti sejuk menjadi ratu sehari berbalut gaun anggun dengan warna hijau segar. Terbayang sosok anggun penuh pesona seorang tokoh legenda yang pernah didengarnya lewat dongeng almarhumah nenek. Ingin sekali Ratri tampil seanggun ratu ayu itu pada hari istimewanya nanti. Betapa cantik ratu itu dalam angan Ratri. Nenek sangat lihai membangun suasana dalam menyajikan sebuah dongeng, hingga Ratri merasa sangat terkesan.

“Aku ingin gaun pengantin berwarna hijau, Mas, ” sergah Ratri melihat Weddy tampak tercenung di depan gaun pilihan Ratri. Fitting busana pengantin di butik langganan Ratri hari minggu ini memberikan semangat baru. Ditatapnya wajah Weddy penuh harap. Untuk akad nikah Weddy menjatuhkan pilihan pada busana pengantin berwarna putih, tak ada salahnya Ratri memilih warna favoritnya untuk resepsi. Weddy masih belum bereaksi. Matanya setengah menerawang.

“Mas,… ” Weddy tergeragap ketika suara Ratri, entah yang ke berapa kalinya, menyapa telinganya. “Oh. Iya, iya Dik,” jawabnya serta-merta tanpa memahami terlebih dahulu. Hari pernikahan semakin dekat, Weddy tak ingin mengulur waktu lagi. Memperdebatkan warna gaun hanya akan menambah beban pikiran. Lagi pula Weddy tahu bahwa Ratri begitu suka dengan warna hijau. Tak sampai hati Weddy melihat kekecewaan Ratri pada hari bahagia mereka. Biarlah Ratri merekah sempurna dalam balutan busana pilihannya. Biarlah….

Hari yang dinantikan pun tiba. Sesuai akad nikah di Masjid Agung Darul Muttaqin, Ratri berganti busana resepsi impiannya. Mengumbar senyum sumringah, menggandeng lengan Weddy yang kini sudah resmi menjadi suaminya, Ratri berjalan anggun menuju ruang resepsi aula masjid yang menyimpan kisah sejarah. Ratri tak berhenti tersenyum. Gaun pengantin berwarna hijaunya menguarkan pesona tersendiri, terasa sekali aura ratunya keluar di hari istimewanya. Ratri benar-benar seperti sosok bidadari yang turun dengan senyum sumringahnya, menebarkan selendang bahagia ke segenap penjuru aula.

Selepas waktu dzuhur, mobil pengantin meninggalkan halaman parkir Masjid Agung Darul Muttaqin Purworejo, yang dikenal luas karena “Bedhug Pendowo” raksasanya. Mobil kembali menyusuri jalan utama kota Purworejo. Bagi Ratri, ini perjalanan terlama yang dirasakan sepanjang usianya, meski jarak tempuhnya tak pernah berubah. Jalan Meranti, tempat kediaman keluarga mempelai pria sudah terlewati, namun mobil masih terus melaju. Ratri tidak memahami apa yang sedang terjadi. Jalan semakin mulus dan semakin mendekati wilayah Jogjakarta, namun mobil semakin kencang melaju tanpa ada yang berusaha mengingatkan. Seisi mobil seperti bisu, tanpa suara. Pun mesin mobil terasa semakin halus derunya. Aroma air laut terasa menyergap hidung Ratri ketika mobil semakin mendekati pantai Parangtritis.

Parangtritis yang biasanya ramai, sore itu tampak lengang. Entah mengapa, Ratri seperti tertarik daya magis untuk berenang. Masih mengenakan gaun pengantinnya, Ratri melangkahkan kaki menuju ke laut. Semakin jauh melangkah, semakin ringan kaki Ratri menyibak kecipak air laut. Semakin ke tengah, semakin dalam, Ratri terus melangkah. Aroma asin air laut perlahan berganti wangi melati. Ratri baru menyadari, dia telah terlalu jauh di tengah laut. Dilihatnya sekeliling, tak seorangpun pengunjung yang ada.

Baca Juga:   Rumah Kekuasaan

Gaun pengantin berwarna hijau, seperti menyatu dengan kilau air laut yang juga kehijauan. Ratri tersadar saat sebuah kereta kencana menghampirinya, dan sebuah bayangan hijau menyambar tubuh mungilnya. Ah, dadanya sedikit nyeri menahan kencangnya arus laut di bawah pusaran. Gaun pengantin hijaunya seperti menyatu dengan gaun hijau sosok wanita cantik yang kini duduk persis berhadapan, di dalam kereta kencana. “Nyi Roro Kidul,” bisik Ratri dengan suara yang nyaris menjadi desisan. Wajah ayu di depannya spontan tersenyum, “Ya, akhirnya kau tahu mengapa kau berada di sini. Gaun hijaumu,” seraya menunjukkan gaun pengantin Ratri dengan gaya yang tak kalah anggun. “Artinya,” Nyi Roro Kidul bangkit dari duduknya, menebarkan senyum misteriusnya yang tetap penuh pesona, “sejak saat ini, kau resmi menjadi anggota keluargaku. Menjadi bagian dari keraton penguasa laut Selatan.”

Sepanjang perjalanan menuju keraton, Ratri merasakan sambutan meriah yang sunyi dari para penghuni laut Selatan. Berbagai macam ikan dan binatang laut berjajar di sepanjang jalur kereta kencana. Kemeriahannya sangat terasa, namun tak sedenting suarapun mampir ke telinga Ratri. Meriah namun sunyi.
Semakin jauh dari pantai, pemandanganpun perlahan berubah. Masih berlatar air, tampak dari gelembung-gelembung udara yang keluar dari alat pernafasan penghuni laut. Di kiri kanan jalan, mulai tampak sambutan lain. Gadis-gadis muda bertubuh separuh ikan, mengingatkan Ratri pada film kartun “Mermaid”, salah satu serial film Barbie kesukaan keponakannya. Ah, di mana ia kini? Di tengah-tengah kemeriahan penyambutannya, Ratri justru merasa sepi.

Kereta kencana semakin mendekati gerbang keraton. Nyi Roro Kidul semakin mempererat pegangan tangannya, membimbing Ratri melangkahkan kaki sesaat setelah kereta kencana berhenti. Pelan namun pasti, kesadaran Ratri mulai kembali. Bau melati semakin menusuk hidung. Ratri ingin pulang, namun justru dirasakan kakinya bagai terpateri, tak dapat digerakkan sedikitpun. Batin Ratri bergolak, semuanya seperti kilasan cerita berputar-putar di batok kepalanya. Sementara, kaki Ratri seakan terhisap daya magnet yang begitu kuat, menariknya jauh ke dalam pusaran. Ratri berteriak. Sia-sia. Suaranya hilang ditelan debur ombak pantai Selatan. Ratri belum menyerah, tangannya masih menggapai-gapai. Bau melati semakin pekat menyengat di hidungnya. Ratri menangis. Dengan pasrah dibiarkannya air laut mulai masuk ke mulut dan hidungnya, mengalir melalui tenggorokannya, lalu memenuhi paru-paru, merangsek di segenap gelembung alveoli. Inilah akhirnya, gaun pengantin berwarna hijau, membawanya ke dalam dunia yang sangat jauh, memisahkannya dari orang-orang yang dicintainya. Perlahan, pandangannyapun gelap.

“Dik. Sssttt, buka matamu, ” sebuah suara dibarengi tepukan di pipi membangunkan kesadarannya. Perlahan Ratri membuka mata, dilihatnya Weddy duduk di tepi ranjang, masih dengan busana pengantin. Ratri menangis, “Mas …” Segera Weddy meraih tangannya, “Kamu terlelap sepanjang perjalanan. Mas tidak tega membangunkanmu. Jadi, Mas menggendongmu ke kamar ini, eh…, kamu malah teriak-teriak, napasmu megap-megap seperti orang tenggelam.” Sayup terdengar azan Ashar dari masjid RT sebelah.

 

Bekasi, 2 September 2018

 

Sumber illustrasi: Informasi Budaya Jawa

Reactions

Nobody liked ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *