Serangkum Rasa (yang) Tersisa9 menit

Please log in or register to like posts.
News

 Kudekap erat tubuh mungil Fathia yang bergetar hebat dalam tangisnya.

“Maafkan Bunda ya, Sayang,” ratapku penuh penyesalan sesaat setelah kau membanting pintu kamar dengan keras. Aku baru menyadari bahwa Fathia terbangun dan mendengar pertengkaran kita.

“Bunda kenapa sih berantem sama Ayah?” bocah 10 tahun itu mendongak menatap dengan mata bening yang memerah dan penuh air. Kubenamkan kepalanya di dada, tak sanggup lagi menahan tangis. Gelombang rasa bersalah menghantam tanpa ampun.

“Maafkan Bunda Sayang, maafkan Bunda,” bisikku sambil terisak di telinganya.

 Adakah yang lebih menyakitkan daripada menyaksikan bibir yang selama ini selalu kita jaga dan inginkan untuk tersenyum, kini bergetar menahan sedu.

***

 Dialah Aura, gadis cantik yang pertama kali mengalihkan pandanganmu dariku. Gadis berambut sebahu dengan senyum begitu madu yang bekerja di toko kita. Awalnya tak menyangka, tak memahami apa yang terjadi, sehingga akhirnya menyadari sesuatu… perhatian berlebihan yang kau berikan kepada gadis berkulit putih itu mengalahkan perhatianmu kepadaku dan Fathia. Aku memang tak pernah menjadi proritasmu, tapi setidaknya putri kita harus tetap jadi yang pertama dan utama.

 Merasa terganggu dengan keadaan ini, akhirnya aku memutuskan untuk tak lagi mempekerjakan Aura, kau meradang atas keputusan itu. Memanggil kembali gadis itu membujuk, merayu, menatapnya dengan pandangan yang begitu sayu ach…entahlah. wajah kalian begitu dekat dan kau menatapnya dengan lekat.

 Aku membara, Mas! mendengar kelakuanmu. Untung tak melihatnya langsung, jika ada di sana mungkin sudah kulabrak kalian berdua. Hanya mendengar dari ibu dan adik karena saat itu aku sedang bekerja. Dan kamu Mas, sama sekali tak peduli dengan sekeliling karena sibuk memandangi wajahnya yang rupawan mengalahkan pesona bulan yang benderang sempurna dalam kelamnya malam.

 Kuberanikan diri untuk meminta kepastian atas dugaan yang merongrong perasaan.

“Kau menyukainya Mas?” tanyaku lirih.

 Demi Tuhan seharusnya kau menyangkal Mas, karena aku tak sanggup menerima kejujuranmu yang begitu pahit. Bilang kau tak menyukainya meskipun itu sebuah kebohongan. Tapi kau mengakuinya Mas, tanpa memikirkan bagaimana perasaanku. Menghujamkan beribu sembilu dalam kalbu.

“Tapi kenapa Mas?” desisku dalam sakit.

“Yah namanya juga lelaki melihat perempuan cantik, kemudian timbul rasa suka, itu wajar,” kilahmu.

‘Wajar kau bilang Mas!’ jeritku dalam hati, hanya dalam hati.

“Lalu kau mau apa Mas, menikahinya?” lanjutku lagi.

 Kau hanya terdiam kemudian berlalu meninggalkan aku yang terkungkung dalam dinding rasa yang begitu ambigu. Tahukah kau Mas, satu kuntum rasa kepadamu dalam taman hatiku telah luruh, tercerabut dari akanya.

***

 Teleponmu berbunyi saat kau tengah di kamar mandi, maafkan kelancanganku Mas, membaca pesan yang tertuju untukmu. Tira, nama itu tertulis dalam kontak.

[Berangkat jam berapa Kak? Jangan lupa sarapan ya … sampai ketemu di kantor]

Hatiku bergemuruh lagi, digempur dahsyatnya gelombang tanya. Tira … Siapakah dia? Aku memutuskan untuk menelponnya menggunakan ponselmu Mas.

[Hai Kak!] pekiknya begitu tersambung, mungkin dia pikir kau yang menghubunginya Mas.

[Assalamualaikum, saya istrinya Mas Bara]

[oh eh, maaf Mbak! Saya pikir ini Kakak] tersirat kegugupan dalam nadanya.

[ini siapa?] tanyaku berusaha meredam emosi.

[perkenalkan Mbak, saya Tira]

[Tira….] ulangku pelan

[Iya Mbak, saya temannya Kak Bara sudah menganggap dia seperti kakak sendiri, dan Mbak jangan khawatir saya akan jaga biar matanya tidak jelalatan dan jangan sampai suka sama perempuan lain] cerocosnya panjang lebar.

Baca Juga:   Embun

[oooh] gumamku pendek.

[Kamu satu divisi dengan suami saya?]

[Iya Mbak]

 Belum selesai pembicaraan dengan perempuan itu kau sudah berdiri di hadapan, menatap dengan pandangan tidak suka karena aku menggunakan ponselmu. Aku mematikan sambungan telepon.

“Siapa Tira Mas, sebegitu perhatiannya sama kamu?” gusarku.

“Cuma teman kerja kok,” jawabmu santai.

“Teman kerja yang sangat istimewa rupanya,” sindirku.

“Sampai-sampai di pagi buta sudah mengingatkan untuk tidak lupa sarapan,” protesku.

“Kamu jangan cemburu sama Tira, lagipula dia sudah punya pacar dan kalau sedang ada masalah sama pacarnya suka minta pendapat aku,” jelasmu.

“Ooh teman curhat rupanya. Huh! Siapa bilang aku cemburu, hanya saja aku tidak mengerti apa yang ada dalam pemikiranmu. Pernahkah sedikit saja mencoba memahami perasaan aku?”

“Oke kalau kamu tidak percaya aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Tira, akan kupertemukan kamu dengan dia,” pungkasmu.

“Tidak perlu Mas, aku tidak mau. Aku hanya tidak suka dengan apa yang kamu lakukan,” jelasku.

 Rupanya kau berkeras tetap membawaku menemui perempuan itu, dan ternyata sebelumnya telah mengunjunginya. Entah berapa banyak kau mengunjunginya, Mas. Hanya diam mendengarkan kalian menjelaskan hubungan yang kalian bilang tak ada apa-apa itu. Aku tidak peduli Mas, cuma mau pulang, pergi dari situasi dan segala penjelasan kalian yang basi.

 Aku pikir selepas pertemuan itu semuanya sudah selesai, karena ketidaksukaanku terhadap apa yang kalian lakukan. Berharap sekarang bisa tenang karena kau telah berjanji untuk tak lagi berhubungan dengan Tira. Namun sebuah pesan membuat memahami ada kebohongan yang kau suguhkan. Melihatmu menerima telepon dari kontak bernama “Agus”. Namun ternyata dari sms yang kubaca, terungkap itu adalah Tira. Aku menangis lagi meski tak mengerti apa yang kutangisi.

“Kenapa kau bohong Mas?” tuntutku lemah, lelah menahan segala kecewa.

“Aku tak bohong Na,” elakmu

“Lalu kenapa dalam kontakmu Tira kau tulis Agus?”

“Agustira…aku tak bohong Na. Namanya memang Agustira.”

***

 Sungguh tak mengerti kenapa hal ini terulang dan terulang. Sampai kapan terus begini. Dan anehnya aku selalu mengetahui saat kau melakukannya lagi.

 Fakta kembali menyodorkan luka. Kali ini dengan gadis cantik bernama Indah, kau menebar pehatian kepadanya. Tak pernah menyangka kalau akhirnya akan sampai pada titik ini, situasi begini, dan perasaan semacam ini, bertarung dalam hati, bertengkar dengan diri antara logika dengan perasaan. Kadang aku lelah, hingga ingin menyerah, tapi haruskah? Benarkah?

 Aku sms saat kau di tempat kerja tapi tak ada jawaban, ah! masih juga merasa kecewa. Padahal tahu sebanyak apapun mengirim, sebesar apapun berharap, tetap tidak akan ada balasan. Entahlah! Akupun belum menemukan jawaban kenapa kau lebih sering dan lebih suka memberi perhatian kepada orang lain lewat sms yang aku baca, atau mungkin secara langsung juga. Setiap kali bertanya, “atas dasar apa?” jawabanmu selalu sama, “iseng” tidak ada maksud apapun. Bukanlah dulu kau bilang mencintaiku Mas, lalu kenapa kau lakukan hal yang menyakitiku. Apakah pendar cinta itu memang telah memudar.

“Kamu masih sayang tidak sih sama aku?” tanyaku bergetar.

“Kamu ngomong apa sih Na?” kau balas bertanya.

“Aku cuma mau tahu, bagaimana sebenarnya perasaanmu terhadapku Mas,” pintaku.

“Yah Na, namanya juga perasaan terkadang seiring waktu bisa berubah,” tuturmu.

“Apakah bisa hilang juga Mas?” lanjutku dalam pilu

Baca Juga:   Perahu di Laut Biru dan Puisi Lainnya

“Ya bisa.” Begitu ringan begitu mudah kau ungkapkan semua itu. Tanpa tahu hatiku kian berdarah.

 Apakah kau mengerti perasaanku? Persoalan yang kau anggap iseng dan sepele ini adalah racun bagiku, semuanya terasa pahit. Luka yang kau torehkan karena Aura, Tira, dan Indah belum pulih, hati masih membara jika teringat semua kelakuanmu, kini deretan nama itu kau tambah lagi. Aku tahu dan sadar! memang tidak secantik mereka yang berkulit putih dan berambut panjang. Mungkin cintamu sudah mati, tingkat kebosanan sudah sampai pada nadirnya. Lalu harus bagaimana? Membiarkan terus menyakiti hatiku, atau merelakanmu lepas terbang untuk menggapai segala kemauan?

 Mohon ampun Ya Allah, setiap satu nama yang hadir membuat bukan hanya rasa sakit yang datang, namun juga ada yang pergi menghilang, menjauh dari hati. Masih bisakah aku menghormatinya seperti dulu lagi saat baru terucap ijab qabul. Atau tepatnya, setelah apa yang diperbuatnya, masih pantaskah dia menerima penghormatan tertinggi dariku? Setelah Allah dan Rasulku.

 Lagi-lagi aku tersentak saat membaca inbox facebookmu. Terkadang tidak tahu itu memang menenangkan, karena kutahu semua paswordmu kami memang tidak pernah saling menyembunyikan. Haruskah terulang kembali?

[Hai Nurish! lagi OL terus nih! Istirahat nanti sakit, sudah makan belum? Katanya sakit, sudah sembuh belum? Kenapa kelihatannya lagi sedih?]

 Tulisan-tulisan itu bagaikan pisau, dan aku muak! Muak dengan kelakuanmu. Harus bagaimana lagi ya Allah. Tidak! Aku tidak sudi untuk menangis lagi karena hal ini.

 Yang samar kini tampak jelas, jelas sekali sekarang. Aku tahu kini Mas, di mana posisiku dalam hatimu. Apa yang tidak kusukai itu sengaja kau lakukan. Kau ingin kemakluman untuk segala keisengan, maaf aku tak bisa. Mauku bukan maumu inginku beda dengan inginmu. Lalu jika dua kepala mempunyai hasrat yang berbeda, mau dibawa kemana hubungan ini?

“Aku mau pisah Mas, biarkan Fathia bersamaku dan kau bebas untuk melakukan apa saja yang kau mau,” ujarku.

“Aku masih mencintaimu, aku sayang kamu Na,” jawabmu.

“Kau bilang cinta, Mas, cinta macam apa yang kau miliki? Adakah cinta tanpa perhatian adakah sayang tanpa kepedulian, kalau memang sayang dan cinta kenapa selalu menyakiti hati?” protesku.

“Aku tidak mau melepaskanmu Na, tidak akan,” tegasnya.

“Lalu apa maumu, terus menerus menyakiti aku?”

“Aku mencintaimu, Na!” teriaknya.

“Tapi aku tidak Mas! Aku tak lagi mencintaimu, semua sudah habis… tak ada lagi rasa yang tersisa,” ucapku mulai menangis.

“Sadarkah kamu Mas? Semua yang kau lakukan membabat habis taman cintaku, tak ada lagi bunga yang mekar. Semua layu, luruh berjatuhan yang ada hanyalah kekosongan dan kehampaan,” lanjutku masih terisak.

“Tega kamu Na!” sambutnya emosi.

“Bisakah kau melepaskan aku Mas, tak ada lagi yang bisa kuberikan kepadamu,” jujurku.

“Tidak akan, aku tak akan melepaskanmu!” tukasnya keras sambil membanting pintu.

***

 Aku menangis memeluk lutut, meratapi keadaan diri, merenungi episode kehidupan yang kualami sampai sebuah usapan halus di bahu menyadarkanku. Putri kesayangan belahan jiwa, Fathia menatap dengan wajah polosnya yang terlihat begitu sedih, air mata telah menganak sungai menuruni tebing pipinya. Dia menghambur ke pelukanku.

“Bunda…,” rintihnya dalam tangis.

“maafkaan Bunda, Sayang … maafkan Bunda.” Tangisku melebur bersama tangisnya

“Bunda jangan berantem lagi sama Ayah, Fathia takut!” Ia mulai histeris.

Baca Juga:   Berbasa Basi dan Jangan Jadi Toilet Buntu

“Iya Sayang, Bunda tidak akan berantem lagi sama Ayah,” janjiku sambil mengusap usap bahunya. Ia melepaskan pelukan, matanya mencari kejujuran dalam mataku. Kucoba tersenyum dengan wajah yang masih penuh air mata. menganggukan kepala.

“Bunda tidak akan bertengkar lagi sama Ayah,” ucapku pasti.

“Janji ya Bunda,” harapnya.

“Iya Sayang, Bunda janji,” sahutku sambil kembali memeluknya.

 Pernikahan tidak melulu soal keindahan, tidak selalu dalam kebahagiaan. Pernikahan adalah sebuah proses pembelajaran. Selamanya kita akan disuguhi bermacam pelajaran. Belajar mengerti pasangan, belajar menahan perasaan, belajar memahami keadaan.

 Belajar menerima dari segala sisinya entah itu buruk maupun baik. Belajar memaknai bahwa tidak ada kesempurnaan. Belajar ihklas menerima kekecewaan, ketika terjadi kesenjangan antara harapan dengan kenyataan.

 Pernikahan butuh landasan yang perlu selalu dijaga. Ibarat tanaman harus dirawat, disiram agar berbunga, dipupuk agar tak layu kemudian mati. Dan di atas segalanya, selalu memohon kepada penggenggam kehidupan. Agar setiap asa yang kita tata menjadi nyata dalam hidup kita.

 Untukku… pernikahan adalah komitment yang harus tetap dijalani meski kadang tak ada lagi rasa cinta. Pengorbanan perlu dilakukan demi kebahagiaan belahan jiwa tersayang.

 Hanya sebongkah harapan tetap kugenggam semoga Allah berkenan melimpahkan kebahagiaan dan keberkahan dalam kehidupan kami. Karena Dia yang membolak balikan hati, karena Dia tahu yang terbaik bagi diri karena Dia penggenggam rahasia kehidupan.

 Aku tidak menyerah, hanya berpasrah. Mencoba menumbuhkan kembali serangkum rasa yang tersisa, dalam taman hati yang telah porak-poranda.

 

Bulak temu, 23-01-2018.

Reactions

Who liked ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *