Insafnya Sang Pendosa dan Puisi Lainnya2 menit

Please log in or register to like posts.
News

“Insafnya Sang Pendosa”

 

Duhai Tuhan rabbul izzati

Betapa jauh langkah kaki melanglang gegap gempita semesta

Kedua mata menyaksikan panorama buana tanda maha karya tangan-Mu yang perkasa dan agung

Tangan terus berayun seirama dentuman musim yang hingar bingar

Dan juga hati terus merekam jejak zaman yang laju

 

Duhai raja dari segala raja

Pencipta petala langit dan pemelihara tujuh lapis bumi

Kemurahan hati-Mu amatlah berlipat hingga tak ada rumus yang sanggup menghitungnya

Nikmat-Mu meliputi ruang dan waktu, tak mampu dijelaskan oleh pakar- pakar sehebat apapun

Tetapi entah mengapa diri ini kerap mendurhakai-Mu

Buta akan perintah-Mu

Dan pura- pura tuli akan larangan-Mu

 

Duhai Allah azza wa jalla

Diri ini telah ditipu dunia

Diperbudak harta benda

Diperhamba jabatan

Dijajah serakah nafsu

 

Duhai Dzat paripurna

Pada hening gulita malam

Kuhadapkan diri nista ke wajah arsy-Mu

Merajut kata- kata insaf menghiba ampunan atas khilaf dan lalai

Serta dosa yang gemar kupertontonkan

 

Duhai engkau maha dari segala maha

Selumbung derai tangis tak dapat menebus

Meski emas permata setinggi Himalaya, tak jua mampu membayar

Hanya ampunan-Mu tak terbatas

 

 

“Kabar Dari Lahat” 

 

Mengapa engkau terlalu angkuh pada paripurna rupa
Hingga kerjamu sekedar berhias rapi dengan segala serba
Berlagak sejuta macam gaya
Padahal telah jelas nan nyata
Bahwa rupa terakhir ialah tengkorak dan tulang belulang berserakan

Mengapa engkau terlalu bernafsuh tuk memiliki dunia
Menumpuk-numpuk materi dan harta benda
Membangun rumah megah dengan berlapiskan menara
Bukankah telah terpaparkan bahwa rumah terakhir ialah lahat yang begitu gulita
Hitam mencekam nan mengerikan
Mengapa engkau begitu gemar mengoleksi berbagai merek pakaian
Lalu gonta ganti tiap kesempatan
Tetapi sudah lelah engkau diingatkan
Bahwa pakaian terakhir tak lain hanyalah selembar kafan
Mengapa engkau begitu menggilai kedudukan
Menghalalkan jutaan cara licik untuk gapai sebuah jabatan
Bahkan rela mengorbankan wibawa diri serta kehormatan
Padahal engkau telah ketahui bahwa kedudukan terakhir hanyalah kematian

 

 

“Tuhan, aku rindu padamu”

 

Tuhan
Kulebur doa pada hamparan sujud
Berlinang air mata penyesalan yang melangit
Terbingkai dalam balutan kata- kata dari lidah yang dhaif

Tuhan
Padamu aku bersimpuh pasrah
Mengaduhkan jiwa yang gemar alpa akan tuntunanMu
Memohonkan jalan maaf untuk hati yang senang membangkang
Tuhan
Aku rindu pada parasMu yang hakiki
Ingin rasanya kusaksikan teduh tanganMu yang agung
Datanglah, peluk rapat tubuhku tiap bilangan tasbih
Tuhan
Sungguh aku merindukanmu
Berharap Engkau berkenan hadir di setiap ruku’ nan sujudku
Lalu menabur ampunan

 

 

Sumber gambar: Rumaysho.Com.

Baca Juga:   Rumah Kekuasaan

Reactions

Nobody liked ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *